Ingin-ingin yang kongkrit

Lelah sama keriuhan berita dan informasi yang diputarbalikkan di hari-hari ini. Lelah kalau harus mendengarkan kebodohan diteriakkan. Lelah jika harus menjelaskan satu per satu alasan kepada orang-orang yang sudah berhenti atau tidak bisa mendengar kebenaran. Aku ingin, ingin-ingin yang kongkrit.

Aku ingin kalau ke luar rumah, melihat jalan yang rapih. Tidak ada lobang,  tidak ada sampah berserakan dan jadi rebutan tikus-tikus yang kelaparan.

Aku ingin ketika melihat ke atas, langit biru yang ku tatap. Bukan warna abu-abu yang berbau.

Aku ingin ketika aku berkendara, nggak ada lobang yang mengagetkan dan merusak per motorku.

Aku ingin, metromini edisi kaleng robeng tidak lagi beroperasi. Aku ingin, jika aku atau orang-orang harus naik metromini, busnya tidak jelek lagi.

Aku ingin, kakek penjual roti yang bekerja dari pagi hingga dinihari nggak perlu bekerja lagi karena semua kebutuhannya bisa terpenuhi.

Aku ingin tetanggaku dalam gang ini sanggup memiliki dan mengejar sesuatu yang lebih tinggi dari sekedar dinikahi.

Aku ingin orang-orang yang mengisi berita di televisi bukan si pencuri lagi.

Aku ingin orang yang dihormati, karena ia sungguh berperilaku terpuji, bukan manipulasi sana sini.

Aku ingin orang-orang yang hobi komen di social media, punya harga diri dan mencerminkan budi pekerti.

Aku ingin yang mengaku bergama, tidak merasa paling benar sendiri dan bisa dikoreksi.

Aku ingin tentara tidak seenaknya sendiri hanya karena mereka punya kuasa untuk menyakiti.

Aku ingin polisi nggak ada kerjaan kayak di jepang, bukan karena nggak mau kerja, tapi karena rakyatnya bisa menjadi polisi bagi diri sendiri.

Sungguh aku ingin semua hal baik ini terjadi.

Advertisements

starry starry night

Saying goodbye to someone so young and so bright was the hardest thing to do. Leaving you wonder, did you said enough or do enough?

Goodbye my friend. See you on the other side.

Starry, starry night
Portraits hung in empty halls
Frame-less heads on nameless walls
With eyes that watch the world and can’t forget

Like the strangers that you’ve met
The ragged men in ragged clothes
The silver thorn of bloody rose
Lie crushed and broken on the virgin snow

Now I think I know
What you tried to say to me
And how you suffered for your sanity
And how you tried to set them free

They would not listen, they’re not listening still
Perhaps they never will

(Vincent by Don McLean)

 

Do Not Go Gentle Into That Good Night

By Dylan Thomas

Do not go gentle into that good night,
Old age should burn and rave at close of day;
Rage, rage against the dying of the light.

Though wise men at their end know dark is right,
Because their words had forked no lightning they
Do not go gentle into that good night.

Good men, the last wave by, crying how bright
Their frail deeds might have danced in a green bay,
Rage, rage against the dying of the light.

Wild men who caught and sang the sun in flight,
And learn, too late, they grieved it on its way,
Do not go gentle into that good night.

Grave men, near death, who see with blinding sight
Blind eyes could blaze like meteors and be gay,
Rage, rage against the dying of the light.

And you, my father, there on the sad height,
Curse, bless, me now with your fierce tears, I pray.
Do not go gentle into that good night.
Rage, rage against the dying of the light.

Working Class Hero

Suatu hari, di twitter gue mendapati tweet seorang “selebtweet” yang kurang lebihnya bilang kalau orang miskin itu pemalas, makanya miskin.

Udah tahun segini, dan masih aja ada orang yang punya pikiran kayak gitu. Padahal sih kalau dari tweetnya, sepertinya dia berpendidikan gitu. Nggak ngerti dididiknya di mana, sama siapa dan bagaimana.

Kelas menengah ngehe.

As soon as you’re born they make you feel small
By giving you no time instead of it all
Till the pain is so big you feel nothing at all
A working class hero is something to be
A working class hero is something to be
They hurt you at home and they hit you at school
They hate you if you’re clever and they despise a fool
Till you’re so fucking crazy you can’t follow their rules
A working class hero is something to be
A working class hero is something to be
When they’ve tortured and scared you for twenty-odd years
Then they expect you to pick a career
When you can’t really function you’re so full of fear
A working class hero is something to be
A working class hero is something to be
Keep you doped with religion and sex and TV
And you think you’re so clever and classless and free
But you’re still fucking peasants as far as I can see
A working class hero is something to be
A working class hero is something to be
There’s room at the top they’re telling you still
But first you must learn how to smile as you kill
If you want to be like the folks on the hill
A working class hero is something to be
A working class hero is something to be
If you want to be a hero well just follow me
If you want to be a hero well just follow me

 

 

 

Meninggalkan masjid

Sudah 2 kali lebaran kami memilih sholat Ied di musholla dekat rumah. Sesungguhnya kami kurang nyaman sholat di musholla depan rumah. Selain suasananya kurang meriah, menurut nyokap, khutbahnya jarang ada yang bermutu. Bagi nyokap dan bokap, khutbah sholat jamaah di masjid memang sangat penting. Walaupun buat gue, ya kayaknya sama-sama aja. Membosankan. Paling nggak sebelum 2 atau 3 tahun belakangan. Engga, bukan karena gue sekarang hobi dengerin khutbah. Justru sebaliknya. Belakangan, gue jadi makin sensitif sama khutbah. Apalagi di jaman ketika banyak masjid kini digunakan untuk menyebarkan ajaran Islam yang cenderung bertentangan dari apa yang gue (paling tidak) hormati dan gue coba untuk jalankan. Dan karena alasan itu pula lah, kini, bokap & nyokap berhenti datang ke masjid besar di daerah Tebet yang selalu kami datangi beberapa puluh tahun lamanya.

Sedih sebenarnya. Gue punya banyak kenangan di masjid itu. Terutama ketika abg, waktu gue merasa senang banget berada di masjid ketika bulan ramadhan tiba. Karena itu artinya, gue bisa sholat bareng teman-teman di SMP. Kita bisa nyimak khutbah dan berlomba mencatat isi khutbah secara akurat, kita bisa ngobrol, mengukur kekhusyukan sholat, hingga mengganggu “penjaga” shaf sholat bagian wanita yang kita sering sebut sebagai “si tangan besi”. Kalau gue ingat lagi, beberapa khutbah di masjid itu dulu walaupun membosankan (yang lagi-lagi soal himbuan untuk tidak menggunakan NAPZA – Narkotik dan psikotropika, atau tips dan trik berumahtangga sesuai ajaran islam) paling tidak nggak membuat lo marah atau minimal nggak membuat lo mempertanyakan logika dan nilai-nilai kemanusiaan dari pernyataan si ustad. Dan alhamdulillah mungkin karena khutbah anti NAPZA itu juga makanya gue nggak ikutan nyobain narkoba waktu jaman sekolah.

Kini, masjid itu seolah bertransformasi menjadi tempat yang sangat menyebalkan, bahkan untuk  dilihat. Menyebalkan, karena lo tau kalau sekarang ajaran yang bahkan nggak masuk di akal atau takaran norma yang lo tahu, kini seakan diterima begitu saja oleh sebagian orang.

Mungkin ini yang membuat gue marah.

Gue nggak tau sampai kapan, dan bagaimana ini akan berakhir.

Peduli amat.

Peduli itu seringkali membuat kita lelah. Membuat kita malah punya kerjaan tambahan untuk mengerti lebih dalam, menelaah hingga nemuin cara yang baik untuk mengkomunikasikannya. Membuat kita harus lebih bersabar. Membuat kita bertanya lagi ke dalam diri sendiri. Siapa kita? Buat apa kita begini? Apa untungnya buat kita.

Peduli, membuat kita percaya kalau apa yang kita lakukan itu adalah hal yang baik untuk dilakukan. Peduli membuat kita mau mengambil resiko. Peduli membuat kita rela menelan pil pahit ketika semua usaha yang kita lakukan seperti tidak berarti.

Jadi kenapa kita harus peduli?

Awet muda

Tubuh menua

Dan kebosanan ini

Awet muda

Posting awal tahun

Postingan ini saya tulis setelah 2 minggu melewati tahun 2017. Tumpukan kerjaan, gangguan social media dan kelangkaan sinyal im3 menjadi faktor betapa jarangnya saya nulis blog di tahun 2016, dan nggak nulis blog goodbye 2016. 

Karena ini udah masuk 2017, baiknya saya catat aja apa-apa yang terjadi dalam hidup saya selama 2016, yang teringat di kepala saat ini. 

2016 emang jadi tahun yang aneh buat sebagian besar masyarakat dunia. Perang yang makin menggila di timur tengah, krisis pengungsi, kematian beberapa selebriti mulai dari ilmuwan, musisi, aktor, hingga kematian akal sehat sebagian masyarakat Amerika yang dengan ajaibnya menjadikan Donald Trump sebagai presiden. 

Buat saya sendiri, 2016 is kinda mixed up. Dibikin patah hati sama orang-orang di kerjaan dan di area percintaan (ceeileee), bisa ketemu Doraemon dan Totoro di Jepang, sampe bisa ngabisin waktu berkualitas sama teman-teman dan mulai serius ngomongin komitmen.

At some point in my life, rasanya saya lumayan bertambah dewasa. Hahaha. Nggak tau sih kalo orang ngeliatnya nggak gitu, minimal saya ngerasanya udah. 

Pada akhirnya, 2016 membuat saya lebih banyak mensyukuri apa yang saya temui di keseharian. Orangtua, teman-teman, pekerjaan, kopi enak setiap pagi di goni, pacar, juga kucing-kucing lucu yang memeriahkan suasana setiap harinya.

Terima kasih, semua 🙂

Bob Dylan, The Poet.

bob-dylan-1300x630__artist-large

Nobel Prize in Literature kali ini diberikan kepada  penulis lirik lagu. Dan orang itu, blog, adalah Bob Dylan. Gila. Seneng banget dengernya. Lirik lagu?! Literarature?! Hahaha…Tentu saja banyak orang yang nggak sepakat dan akan berargumen panjang lebar soal ini. Terserah.

“Yes, to dance beneath the diamond sky with one hand waving free, silhouetted by the sea, circled by the circus sands, with all memory and fate driven deep beneath the waves. Let me forget about today until tomorrow.”

Well-deserved, Bob.

Di Udara

 

Processed with VSCO with hb2 preset

Efek Rumah Kaca di Gudang Sarinah, 5 September 2016

Ku bisa tenggelam di lautan 

Aku bisa diracun di udara

Aku bisa terbunuh di trotoar jalan 

Tapi aku tak pernah mati

Tak akan berhenti

Lirik ini yang semalam lantang dinyanyikan oleh seribuan orang yang hadir di Gudang Sarinah. Suasana yang secara otomatis bikin gue merinding.

18 tahun setelah reformasi. 12 tahun setelah Munir diracun dan mati. Sungguh suara kebenaran itu nggak akan pernah mati.