Monthly Archives: May 2008

vespa on an empty street

Dyer Maker milik Led Zeppelin mulai mengalun dari music player yang menempel di telinga. Sambil berkendara di atas vespa special-gue yang baru aja lulus dari bengkel sekitar satu minggu yang lalu, gw melakukan test drive di sepanjang jalanan tebet yang cukup lengang pagi ini.

 

Gue suka banget berkendara di Sabtu pagi. Entah kenapa, secara psikologis Sabtu pagi itu membawa ketenangan tersendiri. Santai banget.

 

Mengendarai vespa dan mendengarkan Led Zeppelin mengingatkan gw akan cerita pertemuan bokap & nyokap pertama kali di kota Malang, kota asal mereka.

 

Kala itu, nyokap lagi asik mengendarai vespanya sepulang kuliah ketika seorang laki-laki yang juga bervespa terpesona sama kecantikan nyokap dan secara spontan nekat mengikuti perempuan itu sepanjang jalan. Setelah mengikuti selama berkilo-kilo jauhnya, si lelaki pun kehilangan jejak.

 

Beberapa hari setelahnya, rumah nyokap kedatangan seorang tamu. Kakek yang membukakan pintu mengenali tamu itu. Dia, lelaki yang bertamu, adalah keponakan dari tetangga sekitar rumah yang sejak kecil tinggal di Jakarta. Kakek menyambutnya dengan ramah, meski sedikit heran, apa gerangan yang membuatnya datang ke rumah ini.

 

Tak lama, kakek memanggil nyokap. Mengatakan kepada nyokap seseorang ingin bertemu. Sambil mengernyitkan dahi, nyokap pun mengangguk mengiyakan permintaan kakek.


Dan pertemuan itu pun terjadi...

  

24 tahun kemudian, inilah gue. Hasil percampuran gen mereka yang (juga) mengendarai vespa…

 

 

Advertisements

susahnya jadi mahasiswa

“ gak ada, fan…”

“ pasti ada, put. Atau mungkin pas lo bikin, lo lagi mimpi… Logikanya, kalo di gue gak ada  pasti ada di elu”

 

Waktu menunjukkan pukul 00:40, ketika nyokap menelfon ke hp, dan dua orang tadi masih aja berdebat tentang hilangnya sebuah jawaban dari narasumber penelitian…

 

Tugas MPK ini emang bener-bener gila’. Harus dikumpulin besok dan dipresentasikan, setelah kita UJIAN TERTULIS yang memakan waktu sekitar satu jam. Gak kebayang jam berapa kita bisa keluar kelas besok malem…

 

Kenapa susah banget ya, jadi mahasiswa? 

RIP: Sydney Pollack

The Interpreter’ director, actor & producer of ‘Michael Calyton’ ,Sydney Polack meninggal dunia dalam usia 73 tahun, karena penyakit kanker.

We admire your works,

May you rest in peace …

Berpikir kembali

Telepon ditutup.

Dengan suara yang agak lemah, dia berkata kepada kami, “Ali Sadikin Meninggal…”

Wawancara itu pun tidak lantas kami lanjutkan. Sekitar sepuluh menit dia hanya diam, memutar-mutar telepon genggamnya sambil menatap tajam ke layar televisi yang menayangkan peringatan 100 tahun Kebangkitan Nasional di televisi… 

“Siapa lagi yang tersisa?” tanya Mas Hanung. Kini giliran kami yang terdiam. Gue berpikir keras untuk menyebutkan satu nama saja yang pantas untuk disejajarkan dengan Almarhum. Sia-sia. Usaha itu cuma berputar-putar dalam otak gue, tanpa bisa berhasil gue keluarkan dalam wujud kata.

2 Hari yang lalu, dalam perjalanan menuju Kemang pun Bokap mengungkapkan hal yang kurang lebih sama. Jarang sekali Bokap mau bercerita tentang perasaan atau kejadian yang dialami ke gue. Agak aneh emang, hubungannya. Tapi begitulah…

Siang itu dia bercerita betapa ia merasa jantungnya berhenti sepersekian detik. Kala itu, usai menyaksikan kekalahan tim piala Thomas Indonesia, ia segera mengganti saluran televisi. Ia pun menyaksikan sebuah dokumenter mengenai bagaimana Kekayaan alam negeri ini dikeruk sedemikian rupa oleh orang-orang asing melalui perusahaan-perusahaan raksasa mereka. Diceritakan juga bagaimana kita harus membeli minyak milik kita sendiri dengan harga berkali lipat dari perusahaan-perusahaan asing tersebut. Konyol sekali. Seketika itu pula, Bokap merasa tubuhnya melemas, dan jantungnya serasa berhenti sepersekian detik. Dia sedih, kecewa, dan menangis di dalam hati melihat begitu ironisnya keadaan bangsa ini.

Lagi, gue pun memutar otak. Berpikir keras untuk bisa mengeluarkan pikiran ini ke dalam sebuah susunan kalimat yang tepat. Otak gue dipenuhi dengan fakta-fakta yang sama, dan bahkan jauh lebih banyak dan lebih mengerikan dari yang bokap denger. Fakta-fakta yang bikin gue menangis, ketika menyaksikan orang-orang di televisi itu menyebut Soeharto sebagai pahlawan bangsa…

Sulit rasanya untuk sekedar menceritakan ini ke Bokap…

Lagi, fakta-fakta itu cuma berputar-putar dalam otak gue, tanpa berhasil gue keluarkan dalam bentuk kata-kata.  

di tengah kesibukan dan kebingungan

Novel Harry Potter setebal 1000-an halaman itu hanya teronggok diatas tumpukan buku bajakan ethichs in media dan communication theory di lantai kamar. Seharusnya, sekitar 1 minggu yang lalu gue udah selsai membaca novel favorit gue ini. Sayang, kerjaan kampus yang menggila dan kesibukan pekerjaan yang kecil-kecil tapi cukup menyita waktu ini, bikin gue gak sempet baca.

Buat ngerjain tugas kuliah yang menumpuk emang bener-bener menyita energi dan fokus gue. Entah kenapa. Padahal, kalo dipikir-pikir lagi sebenernya, gue gak punya clue apa yang akan gue lakukan ketika nanti gue lulus kuliah. Apakah akan melanjutkan pekerjaan di dunia perfilman, atao bahkan fokus buat jadi jurnalis. Point yang terakhir, kayaknya adalah sebuah hal yang nyaris impossible for me to do it. Yeah, BISA banget gue jadi jurnalis?!?! Meng-interview mas Aris kemaren aja, ribetnya setengah mati…

Sering terpikir sama gue bahwa betapa beruntungnya orang-orang yang udah tau apa yang dia mau, karena sementara mereka udah bisa mengejar apa yang mereka mau, gue masih disini aja. Bingung. Gak tau apakah yang gue kerjakan sekarang adalah bener-bener yang gue mau dan bener-bener the right thing to do.

Beberapa waktu yang lalu, gue sempet menghabiskan beberapa waktu bersama Aming. Dalam sebuah obrolan singkat tapi penuh makna itu, si Aming cerita sedikit tentang pengalaman hidupnya dia. Sampe pada tahap dia merefleksikan ketidaktahuan akan kemana hidupnya ini akan dia bawa. Even orang kaya Aming, yang kariernya saat ini lagi berada di atas, dan materi yang amat sangat cukup kalo gak mau dibilang berlebihan… masih gak tau apa tujuan hidupnya. Ternyata gue bukanlah satu-satunya orang di dunia ini yang masih mencari apa tujuan gue dalam hidup. 11-12 sama gue, aming juga merasakan hal yang sama… . Huh?! Suddenly gue merasa punya temen… Huahaha…

 

mahasiswa sekarang…

May 16th, 2008

Seorang dosen & jurnalis senior pernah bilang:

“… semangat mahasiswa sekarang tidak seperti dulu. Mereka cenderung pragmatis, ingin serba instan, etos perjuangannya kurang…”

Hmm.. Let’s see. Am I….

Pragmatis?

Sebenernya, gue gak gitu mengerti istilah ini. Pragmatis? Hmm.. satu dari sekian banyak kata yang terdengar intelek, sering gue baca di jurnal-jurnal para ahli, di buku, di percakapan-percakapan kaum intelek, tapi sejujurnya gak pernah gue mengerti makna kata ini secara serius. Kata Eja (yang ternyata salah.. lol;p), pragmatis itu semacam berubah- ubah, nggak berpendirian.

We’ll kalo itu makna sebenarnya dari Pragmatis? yea.. mungkin gue termasuk dari golongan mahasiswa sekarang.

(btw, gue dah tau makna pragmatis yang sebenernya dan tetep gak mengubah kenyataan bahwa gue masuk kategori mahasiswa sekarang itu hehe.. )

Ingin serba instan? Etos perjuangannya Kurang?

Beberapa hari ini gue emang lagi diribetkan sama tugas metode penelitian kualitatif, dimana gue dan 2 orang teman melakuakn penelitian kualitatif tentang budaya local Indonesia. Yep, sebuah isu yang bahkan kita bertiga gak sadar bahwa kita memilih isu yang gak familiar sama ranah pembelajaran kita tentang media. That’s why, buat nyari buku yang OK buat referensi aja susahnya setengah mati.

Di perpustakaan, search engine buat melacak keberadaan buku-buku yang kita cari itu agak-agak dodol. Search engine itu cuma bisa diisi sama satu suku kata dasar. Yea, hello… ada berapa ribu buku, coba yang berkata dasar BUDAYA. Gilingan. Karena ribet, akhirnya kita cuek, ngambil buku apapun yang keliatannnya OK jadi referensi. Begitu dibaca di rumah, none of these book have the perfect theory for my reserach. Sial!

Tapi, di zaman yang serba modern ini ada tekhnologi internet, yang punya search engine yang jauh lebih advance daripada search engine di perpus. Jangankan satu huruf, dua belas huruf aja doi masih bisa ngasih hasil yang cukup akurat. Canggih lah pokoknya. Daripada ribet, mesti baca buku yang tebel2 banget dan belom ketauan ada yang kita cari, tekhnologi ini akan jauh lebih membantu, meskipun dosen bilang berkali-kali kalo gak semua jurnal di internet bisa dijadiin bahan referensi.. heuehe… we’ll find a way, lah…

panik dan meracau kembali

Ola!

Dear blog, untuk kesekian kalinya, tugas MPK kelompok gw revisi. Kali ini, daftar pertanyaan kita ditolak mentah-mentah sama mba aya. Go to Hell sama yin and yang…Kali ini gue cuma mau menumpahkan kepanikan, kemarahan dan kebingungan yang lagi gue rasakan. Tau gak, rasanya ditolak mentah-mentah?! 

Gak enak, berasa hina dan gak berharga…Padahal ini baru tugas MPK, bukan skripsi. gila’ skripsi gue nanti apa kabarnya kalo gitu? Udah lama tuh dianggurin, gak disentuh-sentuh…

Kenapa gue panik? karena minggu ini juga kita paling gak harus interview 1 dari 3 narasumber yang harus ada. Jadi, minggu depan udah bisa interview 2 narasumber lagi, trus bikin transkrip, trus coding, trus ngelanjutin sisa bab yang belom selese. Dan tanggal 28 harus udah rapih terkumpul di mejanya mba’ aya. Yep, we only got 2 week to finish it all...

Sementara gue masih punya tugas seminar, bikin layout majalah buat PMC, bikin tugasnya mas Arya yang bikin artikel profil, bikin tugas komunkasi stratejik yang suruh bikin kampanye publik gak penting itu, film pendek yang harus dikerjain, dan filmnya si Iqbal yang juga harus mulai casting di bulan ini. .

Mungkin kali ini gw harus benar-benar mencamkan dengan baik kata-kata mas Hanung yang bilang kalo emang ini kehendak Tuhan, so be it…

Semoga ini juga berlaku buat kehidupan percintaan gw sekarang.. hauahahaha .. so stupid!

Speed racer

Rating: ★★★★
Category: Movies
Genre: Action & Adventure

Go speed racer
Go speed racer
Go speed racer
GO!!!

Familiar sama lirik lagu diatas?
Yep. That was a theme song from a classic series called Speed Racer.
Nonton speed racer versi filmnya membuat lo flashback ke masa lalu, jaman-jamannya lo nonton kartunnya di TV. Mobilnya bisa loncat, punya senjata, anti peluru, dsb. Canggih lah pokoknya… belom lagi karakter-karakternya yang kocak-kocak banget..Asli.. bener-bener 11-12 kalo dibandingin sama kartunnya.

Waktu pertama tau kalo speed racer the movie bakalan lebih banyak animasinya, gue aga sedikit mengerutkan dahi. Karena, expectasi awal gue adalah pengen liat bentuk realis, yang beda dari kartunnya. Terlebih setelah gue nonton Transformers…

Waaupun agak melenceng dari expectasi, tapi film ini gw kategorikan sebagai one of my favorite. Sindiran2nya kena banget. Gw bener2 blown away sama animasinya… Gak kebayang juga sih gimana jadinya kalo film ini bener2 realis.. Gila’.. semahal apa coba?!

the one who take it too seriously

Ola!

Kalo di kelas seminar gue, ada satu orang yang kerjaannya nanya.. mulu ketika ada kelompok yang presentasi penelitiannya. Mungkin di lubuk otaknya paling dalam, orang ini bener-bener gak ngerti makanya dia nanya. Tapi dari sorot matanya i can tell kalo tujuannya doi adalah menyerang kelompok presentasi dengan tujuan-tujuan ambisius… (Bentuk pertanyaan- pertanyaan seperti ini biasanya dikenal dengan pertanyaan nge-tes) Hingga seringkali pertanyaan-pertanyaan yang dia kasih semakin gak jelas dan kadang mengada-ada, kendati kelompok presentasi udah ngejawab dengan sejelas dan sebenar-benarnya.Tapi doi sepertinya selalu merasa bahwa kelompok presentasi ini salah besar   Gue dan Gina mengidentifikasi orang ini dengan nama

“the one who take it too seriously”  

Ternyata orang itu bukanlah satu-satunya orang di dunia yang taking thing’s too seriously. Siang kemaren, Dimas bawa-bawa selebaran yang ditujukan buat bikin tugas iklannya. Penasaran, gue pun membaca isi selebaran:

Membahas kebobrokan novel Harry potter?!?! Come On…  Hauahhaha

giliran gue meracau

Ola!

Beberapa hari yang lalu, seorang temen minta tolong buat ikut serta dalam sebuah program TV yang dia kerjain. Karena gue kerap kali merasakan sulitnya pekerjaan dan betapa bantuan temen dapat amat sangat membantu kerjaan, maka gue memutuskan buat meng-OK kan ajakan temen gue ini. Saat itu gue dan beberapa orang temen emang lagi nongkrong di takor, makan trus siap-siap menuju perpustakaan buat ngerjain tugas yang sama beratnya kaya skripsi. 
Jadi acara TV asuhan temen gue itu adalah sebuah acara dangdut ternama di salah satu tv swasta nasional. Intinya, gue dan beberapa orang temen gue mengisi sesi request lagu. lagu dangdut pastinya. huh?!?! Tau juga kaga lagunya.. tapi, yah.. namanya juga TV. Inget ya, Everything si FAKE on TV. 
Tappi walaupun Ok, sebenarnya dalam lubuk hati yang paling dalam gue merasa Jijay sama Dangdut. Jadi, dalam lubuk hati yang paling dalam, gue bertanya

 “am i seriously going to do this?”

tapi ya udah lah… Gue kan cuma ngebantuin temen..

Pengambilan gambar pun segera dimulai. Muncullah 2 oorang host acara dangdut tersebut. ! perempuan dengan gaya berpakaian dangdut yang pink-ketat-dan aduhai dan satu lagi laki-laki dengan pakaian pink-aduhai juga. 

Orang kreatif acara itu menyuruh gue membuka laptop, buat menyemarakkan suasana. Sambil menunggu kesiapan kamera, si host perempuan-pink-ketat-aduhai itu numpang duduk di sebelah gue. . . Kemudian dia melihat wallpaper laptop gue yang saat itu gambarnya adalah foto idola gue  MEL C.

Tanpa tedeng aling-aling dia nunjuk foto idola gue-yang paling keren sedunia itu, dan nyeletuk

“Ih jelek banget..”

Gue yang denger perkataan perempuan-pink-ketat-aduhai ini pun kaget.

“Hah!?!?”

Gokil, man. Idola gue yang paling keren di seluruh dunia dibilang jelek sama perempuan-pink-ketat-aduhai?!?!

“Gila!”

Advertisements