Monthly Archives: July 2008

Sabtu: makan tanpa henti

Di tengah meeting pagi ini di STARBUCKS COFFEE Kemang, seorang teman menelfon untuk menghabiskan quality time bersama teman-teman SMA saya. Karena itulah setelah meeting selesai, saya bergegas untuk pergi ke rumahnya di daerah buncit. Setibanya disana, sambil senyum-senyum dua orang teman saya memberi tahu bahwa mereka berencana makan siang di POKE SUSHI.

 

 

Mereka tahu pasti bahwa saya tidak suka sushi. Bahkan berada di dalam restoran sushi pun saya tidak betah. Beberapa restoran sushi memang sangat anti saya datangi karena aroma-aroma makanan mentah itu bisa membuat saya mual… Karena alasan itulah senyuman manis dua orang ini terasa sangat mencurigakan buat saya…

 

 

Saya sempat mengajukan DUCK KING yang juga berada di mall yang sama sebagai tujuan makan siang kami. Namun, salah satu teman saya yang memang sedikit obsesif dengan berat badan dan perhitungan kolesterol menolak mentah-mentah usulan saya. Tidak ada kata bebek dalam kamus kulinernya. Paling tidak selama satu/dua tahun ini. Huh… menyebalkan…

 

 

Perdebatan masih terus berlangsung bahkan ketika kami telah tiba di mall tujuan di wilayah Jakarta Selatan. Sampai akhirnya, saya terjebak dalam situasi dimana saya terpaksa mengikuti keinginan dua orang teman saya ini untuk makan siang di Poke Sushi.

 

 

Beruntung, Poke Sushi tidak mengeluarkan aroma-aroma yang membuat saya mual. Jadi, saya merasa sedikit nyaman berada di dalamnya. Tetap, tidak membuat saya menjadi menyukai sushi. Saya pun memesan Poke fried rice. Menu yang sangat aman untuk saya.

 

 

Quality time kami lanjutkan untuk berburu hidangan dessert. Karena kami belum pernah menjelajahi wilayah Kelapa Gading bersama-sama, maka kami memilih mencari makanan di sana. Sepertinya seru walaupun cukup jauh. Sangat jauh bahkan,  dari tempat kami berada sekarang… lol;p

 

 

Setibanya di wilayah ini, kami bingung mau mencari apa saking banyaknya jenis makanan yang ada di wilayah ini. Tapi, saat ini kami sangat tertarik untuk menikmati es-es an…

 

 

Namun, niatan mencari es es an di wilayah Kelapa Gading, harus diurungkan karena setelah memutari wilayah ini selama beberapa menit kami tidak juga menemukan tempat yang kai cari. Sampai kami melihat plang PASTEL MAK CIK.

 

Hmm.. kelihatannya menarik. Kami pun masuk, dan membeli beberapa buah kue pastel dan beberapa kue lainnya.

 

 

Tak jauh dari mak cik, kami kemudian tertarik dengan THE SOES HOUSE. Di sini, menyajikan berbagai macam rasa kue soes. Begitu kami masuk, seorang pelayan memberikan kami tester kue-kue yang mereka sediakan. Ada berbagai ras, seperti coklat, tiramisu, strawberry, lemon, coklat crunch, capucinno, dan beberapa rasa lainnya yang saya lupa namanya.. heuehehe;p Di luar dugaan, ternyata kue soes mereka enak sekali.

 

 

Walhasil, saya dan dua orang teman saya memborong beberapa kardus kue soes untuk kami nikmati sendiri, dan untuk keluarga di rumah..

Ada hal yang menyebalkan ketika membayar di kasir. Sang penjaga memberi kami kartu nama, dan setelah kami teliti dengan baik, ternyata Toko ini juga ada di wilayah Fatmawati. Huh! Menyebalkan. Kenapa kami harus jauh-jauh ke Kelapa Gading?!?!heuehehe..;p

 

 

Setelah selesai membeli kue soes, satu lagi teman kami yang menelfon untuk mengajak kami bertemu. Maka, rencana untuk menikmati kue-kue yang kami beli di warung kopi di wilayah Kelapa Gading harus berpindah ke wilayah Jakarta selatan (lagi).

 

Bingung memilih tempat, maka kami menuju sebuah tempat yang menyajikan Milkshake yang cukup enak dan murah di daerah Tirtayasa. Tempatnya bernama SHAKER. Di sini, berbagai rasa milkshake bisa ditemui. Dari yang 100% chocolate, atau vanila, atau mint, atau strawberry dan masih banyak lagi jenis milkshake yang satu rasa atau yang memiliki campuran rasa. Di sini, juga ada ice cream loh.. Akhirnya! Sambil menikmati makanan-makanan kecil yang kami beli di Kelapa Gading, dengan lahapnya kami pun menghabiskan milkshake dan ice cream pesanan kami yang enak itu.

 

 

Sampai di sini, teman saya yang obsesif dengan berat badan dan kolesterol pun akhirnya menyerah juga.. Hauahahha

 

Wuah.. penuh sekali rasanya perut ini.. tapi salah seorang dari kami benar-benar harus menyantap nasi dan semacamnya. Maka, wisata kuliner kemudian kami lanjutkan ke wilayah Kemang. Pilihan jatuh ke DIM SUM Kemang.

 

 

Salah satu tempat terpopuler di sini, juga merupakan salah satu tempat makan favorit saya. Seperti semua orang ketahui, disini kita bisa menikmati berbagai macam jenis dim sum,  bubur, bebek, sushi dan berbagai makanan Jepang dan Cina lainnya. How great is that? 

 

Dan setelah menghabiskan semangkuk bubur bebek panggang petualangan kami menjelajahi kuliner di Jakarta pun harus berakhir.. Huehehehe.. Can’t wait for another quality time…

 

 

“Kapan lagi nih?”

 

The X Files 2: I Want To Believe

Rating:
Category: Movies
Genre: Mystery & Suspense

Urrgh!

Seketika saya menerima sms jadwal penayangan X files pada pukul 17.20 di salah satu bioskop terdekat, saya langsung meminta pak supir membalik arah. Jantung saya berdegup lebih kencang, karena sangat excited untuk menonton aksi Fox mulder & Dana Scully walaupun seorang diri. Setibanya di bioskop, tidak seperti biasanya saya tidak melakukan ritual makan malam sebelum menonton. Takut terlewat jam pemutaran, maklum saya tiba setengah jam sebelum film dimulai…

Lalu, layar pun mulai memainkan musik khas X files. Wah.. saya senang sekali.. terakhir saya menyaksikan x files adalah sekitar 10 tahun yang lalu. Waktu itu, serial X files untuk pertama kalinya dijadikan layar lebar…

Dan ini dia. Cerita dimulai dengan adegan segerombolan FBI melakukan pencarian di daerah bersalju, disertai dengan potongan-potongan adegan menegangkan seorang wanita yang sedang diserang oleh 2 pria tak dikenal…

Kemudian cerita beralih ke kehidupan Scully (OMG, I Miss Scully!!!) yang telah berhenti menjadi FBI dan kini berprofesi sebagai dokter di salah satu rumah sakit. Lalu, Fox Mulder (I mis him too!!!, lol;p) yang sedang dalam pelarian dari FBI, yang sedang berada di dalam ruangan penuh potongan berita-berita koran, foto adiknya, dan sebuah poster UFO berukuran besar yng dibawahnya bertuliskan I WANT TO BELIEVE.

Oke.
Sampai bagian itu saya masih menjadi fans The X Files.

Salah satu alasannya adalah karena saya suka sekali UFO dan hal-hal yang berbau misteri mengenai apa yang terjadi di luar tata surya kita. Dan The X Files, seingat saya adalah sebuah series yang banyak menampilkan hal-hal tersebut, berbeda dengan CSI, Bones atau semacamnya.

Bermenit-menit saya menantikan kapankah clue mengenai kasus yang sedang dikerjakan memberikan lead kepada hal-hal yang berhubungan dengan UFO? Berpuluh-puluh menit itu pula saya berharap akan menyaksikan The X Files seperti yang pernah saya saksikan dulu…
Dan berpuluh-puluh menit itu terbuang percuma…

I do want to believe that this is the X Files that im watching…

Vacation week: Yogyakarta

You’re asking me will my love grow

I don’t know, I don’t know

You stick around and it may show

I don’t know,   don’t know…

 

Lirik lagu something tadi mengalun begitu saja dari mulut saya, saat sang pengamen mulai memainkan musik gubahan The Beatles ini dengan gitar dan harmonikanya. Dari potongan rambut dan kacamatanya, saya bisa menduga bahwa sang pengamen adalah fans berat The Beatles. Karena itulah, kemudian saya memintanya untuk memainkan lagu favorit saya tadi.

 

Hal seperti ini yang sangat saya sukai dari kota Yogyakarta. Ke manapun anda melangkah, kemanapun anda melihat, sense of art-nya sangat terasa.

 

Saya menghabiskan waktu 3 hari di kota pelajar ini. Tidak untuk liburan, tetapi untuk menyelesaikan pekerjaan yang sempat saya selak karena terlanjur memesan tiket ke Bali. Sehingga waktu keberangkatan saya ke Jogja juga amat dekat dengan waktu liburan express saya sehari sebelumnya.

 

Setibanya saya di yogyakarta setelah melakukan perjalan selama 8 jam dengan kereta api, saya langsung menuju kediaman salah seorang teman. Setelah bercakap-cakap selama sekitar dua jam, ia kemudian menemani saya untuk mencari penginapan. Di tengah perjalan, saya meminta teman saya ini untuk menghentikan laju Honda cb 100nya untuk menikmati kue lupis tradisional. Kue ini adalah salah satu favorit saya..

 

Menyantap kue lupis, memutar memori saya kembali ke beberapa tahun yang lalu ketika saya masih tinggal di Kota malang. Setiap pagi saya selalu membeli kue lupis dari seorang ibu yang menjajahkan kue lupisnya di pasar depan rumah. Si ibu selalu memakai kebaya brokat sederhana, kain serta kain lap putih berukuran cukup besar di pahanya ketika ia duduk. Kain ini berfungsi sebagai celemek, lap tangannya setelah ia selesai melayani pra pelanggannya…

 

Ajaibnya, ibu penjual lupis di Jogja ini juga berpenampilan sama. Wuah, senang sekali. Rasanya seperti kembali ke beberapa tahun lalu di kota Malang… heuehhe;p

 

Tiga hari berada di sini lebih banyak saya pergunakan untuk menyelesaikan pekerjaan, mencari pemain-pemain untuk memerankan karakter-karakter dalam film saya selanjutnya yang akan mengambil lokasi di kota Jogja. Tapi, terimakasih atas kemurahan hati teman-teman baru saya di sela-sela kesibukan toh saya masih bisa menikmati kuliner menyenangkan khas Jogja. Setiap pagi, mas Budi, teman baru saya dengan baiknya mengantarkan sarapan khas Jogja ke hotel. Mungkin dia sangat mengerti bahwa sarapan hotel yang ala bule itu tidak terlalu cocok dengan selera saya yang Indonesia banget dalam masalah makanan. Ada kalanya, mas Budi mengantarkan saya untuk menikmati sarapan di beberapa sudut kota Jogja.

 

Love it!  

I could stay forever in a city that have great taste of food… lol

 

 

 

 

 

 

 

Escape to paradise: Bali

Liburan kilat ditengah pekerjaan yang menumpuk on 15-18 Juli 2008. Yea!!!
On this picture: ame, Fitri, Riri. Hanoman, Gajah, Singa’. Tiger, Monkey, and people.. lol;p
Camera: Samsung dodolnya Ame’ & Sony Cybershotnya Fitri ;p

vacation week: bali part III

DAY 3, July 17th 2008

Dolphin hunter

Hari datang lebih awal bagi kami bertiga di hari ketiga kami di Bali. Pukul 02.00 waktu Bali, Riri sudah membangunkan saya dan Fittri untuk bersiap-siap. Hari ini kami akan menuju sebuah perairan di Utara Bali, dimana kami bisa berdekatan dengan lumba-lumba di lautan lepas.

Guide kami datang tepat pukul 03.30. Sangat pagi. Maklum saja, perjalan dari legian ke lovina bisa mencapai 2 sampai 2,5 jam, dan lumba-lumba biasanya banyak berkumpul di perairan ini saat matahari terbit. Entah kenapa, mungkin mereka juga banci sunset seperti saya.. Huehhe;p

Di luar dugaan, perjalanan menuju lovina pada dini hari tidak kalah eksotisnya. Dari kaca mobil yang saya tumpangi, saya bbisa melihat jelas bagaimana indahnya bulan purnama yang terpajang indah diantara lekukan-lekukan perbukitan dan siluet dari rumah-rumah warga khas bali… Dan kettika kami melewati sebuah danau, mata saya yang mengantuk ini pun tiba—tiba tersa sangat bersemangat menyaksikan keindahan alam ini.

Wow. Pernahkah saya melihat cahaya bulan purnama yang terapit diantara dua bukit yang sangat besar, dan bintang-bintang yang tersebar luar biasa indah diatas langitnya terpantul dari air yang sedikit bergelombang tepat di sebuah danau di bawah bukit?

Saya rasa tidak pernah. It was amazing…

Perjalanan kami lanjutkan setelah sempat berhenti sejenak di pinggir danau. Jalan yang kami lalui pun berkelok-kelok. Sambil menunggu tempat tujuan, kami pun tertidur.

Tak lama, mata saya terasa tertusuk-tusuk cahaya hangat matahari, seolah ia ingin membangunkan saya dan memberitahu bahwa kami telah tiba di tempat tujuan. Ketika saya membuka mata, pengemudi mobil sekaligus guide kami terlihat turun dari mobil untuk berbicara kepada beberapa orang lokal di pinggir jalan. Rupanya ia mencari informasi di mana kami bisa memperoleh jasa pelaut untuk melihat lumba-lumba yang tidak terlalu mahal. Setelah bertanya, pengemudi kami kemudian mengarahkan kendaraannya masuk ke dalam sebuah gang yang cukup lebar untuk dilewati sebuah mobil mini bus. Dan di sana, kami bertemu dengan Putu. Penduduk lokal, yang biasa mengantar para wisatawan untuk melihat lumba-lumba di perairan lovina. Dan ia, memberikan tariff yang cukup reasonable untuk kantong mahasiswa macam kami, 60 ribu rupiah.

Perahu motor Putu pun segera beranjak dari bibir pantai menuju lautan lepas, membawa kami untuk lebih dekat dengan para lumba-lumba. Sejujurnya, saya agak sedikit takut. Jujur saja, saya tidak pernah benar-benar menyukai laut, sama seperti saya tidak pernah benar-benar menyukai pesawat terbang. Tapi, pagi itu saya merasa bersemangat sekali. Berkali-kali saya arahkan kamera handycam ke ujung perahu yang  terlihat memecah air laut. Keren juga, berada di kapal motor kecil seperti ini, pikir saya… Saat itu terdengar Putu yang memberi tahu bahwa saya harus mengarahkan kamera saya ke belakang. “lihat matahari terbit” katanya.

Kamera handycam saya arahkan ke belakang. Tepat di ujung daratan, matahari terlihat mulai mengintip dari balik bukit. “ Itu dia si matahari. Matahari yang semalam bersembunyi dan memantulkan cahayanya ke bulan.. “ pikir saya .  Tau tidak? Kalau seharusnya saya merasa iri kepada matahari? Karena bahkan ketika dia sedang break, kerjaannya di bumi masih bisa berjalan dengan baik melalui asistennya si bulan. Tidak seperti saya. Ketika saya break sebentar  dari peerjaan, eh malah gak ada yang bener jalannya  … Sepuluh menit setelah meninggalkan pantai, mulai terlihat puluhan kapal-kapal motor kecil sejenis berkumpul. Rupanya mereka juga berburu lumba-lumba. Tak lama, kami pun melihat sekumpulan lumba-lumba yang melompat-lompat kegirangan ke atas air. Hua..! Senang sekali saya melihatnya!

Tapi, kesenangAn itu tidak berlangsung lama. Baru beberapa detik saya menikmati lumba-lumba yang meompat-lompat tiba-tiba terdengar satu suara perahu motor mendekat, kemudian beberapa suara perahu motor lainnya yang menuju ke arah. Mendengar suara-suara itu, gerombolan lumba-lumba itu pun segera pergi. Huuu… payah! Terpaksa Putu harus mengarahkan perahunya ke titik lain di mana ia bisa membawa kami untuk menemukan lumba-lumba.

Snorkle

Setelah puas melihat lumba-lumba, kami kembali ke darat. Dalam perjalanan, Putu menawarkan untuk snorkeling melihat kumpulan terumbu karang di perairan tersebut. Fitri dan riri tidak tertarik. Cuma saya yang bersemangat. Akhirnya, setelah sarapan sebentar, saya dan putu segera kembali ke tengah lautan untuk snorkeling.

Ok. Ini untuk pertama kalinya saya snorkeling. Dalam keadaan normal saya tidak pernah mau melakukannya. Seperti yang saya bilang tadi, saya tidak pernah benar-benar menyukai lautan. Tapi liburan kali ini saya harus melakukannya. Jadi, biarpun seorang diri saya tetap excited.

Putu memperlihatkan kepada saya beberapa tekhnik sebelum mulai menyentuh lautan. Saya tidak biasa bernafas dengan mulut sehingga beberapa kali air laut yang asin itu masuk ke dalam mulut saya. Lumayan juga rasanya. Seperti air garam.. huhehe..;p Setelah mulai faseh bernafas dalam air, saya dan putu mulai menjelajah lautan karang.

Dari kacamata saya, terlihat ikan-ikan lucu berseliweran di antara bunga-bunga karang berwarna abu-abu dengan garis-garis putih cerah, dan bintang laut berwana biru tua stabilo. Seru sekali melihat mereka secara langsung. Jauh lebih seru ketimbang melihatnya di National Geographic, meskipun kalau dibandingkan dengan taman-taman laut yang pernah ditayangkan channel tersebut (bunaken dkk), taman laut di perairan lovina tidak begitu bagus. Beberapa kali tangan saya berhasil menyentuh tubuh ikan-ikan lucu yang heboh bersemangat ketika saya mengeluarkan makanan…

Setelah lelah berada di antara terumbu karang, saya dan putu kembali ke daratan.  Karena pantai yang menjadi pelabuhan kami tidak memiliki fasilitas kamar mandi, Putu menyarankan agar saya menyewa kamar mandi di komplek penginapan dekat pantai. Penjaga penginapan kemudian mengantar saya ke sebuah kamar kosong yang kelihatannya tidak terpakai. Pertama kali melihatnya, kamar itu terasa sedikit horror. Bayangkan saja, kamar itu berdekorasi Bali dan tidak bertempat tidur. Hanya sebuah lukisan gadis bali terpampang di sebuah sisi dindingnya. Kamar mandinya lebih menyeramkan lagi.

Gelap gulita.

Saya melihat sekeliling… Ternyata saklarnya belum di tekan.

Sial.

Udah parno aja… Huehehe;p

Setelah lampu menyala, dengan hati-hati saya menyalakan kran shower. Oke. Berfungsi normal. Saya meyalakan keran lebih kencang lagi. Air pun mengalir lebih deras. Dan seketika itu, lubang air mulai bergerak-gerak. Dengan waspada saya memperhartikan gerakan –gerakan itu, dan BAM! Dua ekor kodok muncul dari lubang air!!! Aaaaa!!!! Saya benci kodok! Mereka jelek, menggelikan dan menyebalkan karena sudah membuat saya terkejut luar biasa!

Rasa geli dan jijik setelah melihat dua ekor kodok masih terbayang di benak saya ketika mobil meninggalkan pantai lovina. Kami kemudian melewati jalan-jalan kecil dan rapih menuju air terjun. The thing about the waterfall is, adalah karena kami bertiga agak terobsesi dengan videoklip nya Jason Mraz yang Im Yours. Apalagi si Fitri. Cita-citanya adalah melompat dari atas tebing air terjun, kemudian berenang dengan okenya di genangan air jernih di bawahnya. Huahaha…. Fitri.. fitri…;p

The Monkeys

Beberapa ratus anak tangga dan areal persawahan harus kami lalui dengan berjalan nkaki untuk menuju air terjun. Dan kaki saya mulai terasa tidak normal. Meskipun begitu, saya tetap melanjutkan perjalanan.  Ketika tiba di pancuran air terjun, saya merasa benar-bener rileks. 

Finally!  



Beberapa menit kami habiskan hanya sekedar untuk merendam kaki di air yang jernih dan dingin, tepat di bawah tumpahan air. Sisa waktu lainnya, kami habiskan untuk berfoto. Saking lelahnya, senyum saya di foto jadi kurang maksimal… huehhe;p


Dalam perjalanan menuju danau (yang saya lupa namanya) kami berhenti sejenak untuk memberi makan para kera di pinggir jalan. Banyak sekali kera-kera di sini. Kata guide kami, kera-kera di sini sangat sopan, jauh lebih sopan jika dibandingkan dengan kera berandalan di daerah sangeh atau uluwatu yang hobinya merampas milik manusia. Heuhehe.. benar saja. Seekor kera gemuk dan rakus, menarik-narik ujung celana pendek saya dengan halusnya. Hihihi.. lucu sekali. Saya agak jual mahal kepada si kera. Maklum, beberapa saat sebelumnya seortang turis Jepang mengeluhkan kera tersebut karena ia tak henti-hentinya memakan makanan yang ia tujuakan untuk kera lain. Parahnya, si kera gendut ini tidak pernah berhenti makan. Im telling you.. she’s not a quiter   Rupanya, kera-kera di sini terbagi dalam beberapa kelompok. Masing- masing kelompok memiliki ketuanya masiong-masing. Dan masing-masing kelompok juga memiliki giliran untuk mendapatkan makanan dari para turis yang memberi makan. Ajaibnya, kelompok-kelompok ini patuh menunggu giliran mereka. Dan ketua mereka, juga cukup bertanggung jawab. Mereka tidak menerima makanan ketika sedang bertugas. Huehehe.. itu menjelaskan kenapa ada seekor kera yang tidak pernah mau menerima makanan dari para wisatawan, padahal dia kerap kali mendekati para turis, dan mengusir seekor anjing yang selalu memakan makanan apapun yang luput dari tangkapan para kera. Hebat…

What a view

Guide kami mengarahkan mobil ke sebuah tempat di mana kami bisa duduk-duduk dan beristirahat sejenak setlah lelah melkuakn berbagai aktivitas alam. Dari sebuah bukit yang terletak tepat di depan danau tersebut, lagi-lagi kami melihat pemandangan yang luar biasa.

Beberapa ratus meter dari danau bedugul, terdapat dua buah danau yang terpisahkan oleh daratan yang ditumbuhi oleh ribuan pepohonan. Saya tidak pernah sadar akan hal ini, meskipun ini adalah kali ke-sekian saya melewatinya. Dulu, saya selalu berpikir bahwa danau ini adalah satu bagian. Ternyata saya salah. Uniknya lagi, diantara dua danau ini terdapat sebuah laguna… sayang, dari tempat saya berdiri ketika memotret keindahaan alam ini di pikiran saya, saya tidak bisa melihatnya karena tertutup pepohonan…

Setelah seharian menjelajah wilayah Bali utara, kaki saya benar-benar collapse. Belum lagi sura yang tiba-tiba menghilang. Malam harinya, ketika Riri dan Fitri mengajak berbelanja oleh-oleh di sepanjang Legian, saya tidak berkutik. Terpaksa saya harus kembali ke hotel. Berendam aiir hangat dengan ramuan aroma theraphy tradisional Bali, minum obat, dan teronggokdi atas tempat tidur sambil menyaksikan sinetron. Pathetic… Hauahhaa..;p Untungnya saya masih menyimpan sedikit semangat. Menjelang tengah malam, kami bertiga berhasil keluar dari hotel dan bertemu beberapa teman lama kami yang ternyata sekarang tinggal di Bali.

Maka, malam terakhir kami di pulau dewata kami habiskan dengan makan malam sambil bernostalgia masa-masa kuliah broadcast…

What a day…

vacation week: Bali part II

DAY 2, July 16th 2008

Karena waktu liburan kami yang terlalu singkat, rencana awal berpetualang ala backpacker harus diubah menjadi liburan cepat dan efektif dengan menggunakan jasa guide dan driver yang menguasai jalanan Bali.  Sehingga, Pagi ini kami dijemput oleh 2 orang lokal yang bertugas sebagai driver dan pemandu jalan.

Pemberhentian awal kali ini adalah pantai Sanur.  Bukan karena kami ingin menikmati pantai, tapi lebih untuk merasakan nasi bali yang terkenal itu. Lebih tepatnya, untuk saya pribadi adalah untuk membandingkan rasa Nasi Bali di pesta pernikahan Oka dengan nasi bali yang direkomendasikan oleh pak Bondan yang katanya maknyoss itu. Ternyata, nasi Bali itu terletak sekitar 200 meter dari  pintu masuk pantai Sanur. Hmm, padahal seringkali gue berkunjung ke Sanur tapi gak pernah notice kalo ada yang jualan nasi Bali di situ…

Penjualnya adalah ibu2 paruh baya. Ia berdiri di depan beberapa baskom yang terisi dengan berbagai bahan untuk nasi Bali. Nasi Bali, tidak jauh berbeda dengan nasi rames. Yang membuatnya berbeda adalah campuran dari bahan-bahannya, dan juga cara mencampurnya. Yep. Di depan mat ague yang lapar melihat bahan-bahan itu, si Ibu dengan Oke-nya mencampur berbagai bahan mentah dengan kedua tangannya. Langsung. Yep. With her two BARE hands.. Antara amazed atau jijik.. hauahahha, beda tipis. Ajaibnya, rasanya emang maknyoss! Bener kata pak Bondan… heuhehe;p

Setelah puas merasakan nasi Bali yang maknyoss, perjalanan kami lanjutkan menuju Taman Safari. Agak berbeda dengan Taman safari yang ada di Cisarua-Bogor, Taman safari ini cukup menguras dana liburan. Bayangin aja, tiket masuknya aja paling murah Rp. 75.000. Huahaha.. tapi, berhubung kami adalah sekumpulan anak-anak kaya raya, maka kami pun memilih paket yang paling mahal, yaitu  Rp.250.000. Beruntung kami bukan bule. Jadi kami mendapatkan harga diskon untuk pribumi sebesar Rp.235.000. huehehe…

Pengunjung taman safari ini sebagian besar adalah warga negara asing, dan sebagai satu-satunya wisatawan pribumi seolah-olah kami berada di kebun binatang di luar negeri… lol;p

Ada banyak binatang menyenangkan di taman safari ini. Favoritya saya adalah anak singa dan anak macan benggala bengal yang baru berumur beberapa bulan. Lucu sekali. Mengingatkan saya akan kucing peliharaan yang bernama singa’. Bedanya, kalau yang ini singa beneran, jadi agak sedikit menakutkan dan tidak bisa saya perlakuakn semena-mena. Yang ada merka yang memperlakukan saya secara semena-mena. Bayangin aja, saya dipaksa menunggu selama 1,5 jam oleh si anak macan ketika saya ingin berfoto dengannya. Dan setelah tiba gilran saya berfoto, si anak macan malah cuek dan ogah-ogahan… dasar kurang ajar.. huehehe… Petualangan di Taman Safari kami lanjutkan dengan berbagai kegiatan menyenangkan lainnya. Nonton pertunjukkan gajah (biarpun udah telat), belanja boneka wally (penting deh, fit!?!?), foto sama onta, sampe maen go-go bounce yang kocak banget. Hauahhaa.. Kalau diinget-inget masih bisa ketawa ngakak.. hauahahha;p Kocak banget sih. Jadi, go-go bounce itu semacam permainan yang kaya di dufan, muter-muter gitu tapi bisa lompat-lompatan dengan iringan musik Bob Marley. Kocak banget. Rasanya seperti lo naik mobil, trus lewat turunan tiba-tiba gitu. Geli banget kan? Nah coba bayangin aja gelinya 200 kali lipat..lol;p Rekomendasi saya adalah ketika anda naik, ada baiknya jika sebelumnya anda mengkonsumsi  dedaunan organic  (u know what I mean?!) , pasti poll banget tuh ngakaknya..;p

Selepas taman safari kami menuju ke beberapa tempat lain. Belanja di sukowati, nongkrong bentar di pantai berpasir putih dreamland, dan lanjut nonton pertunjukkan kecak saat matahari terbenam di Uluwatu. Ini adalah bagian favorit saya. Seperti sudah saya tulis diatas, alasan utama saya berangkat ke Bali adalah untuk menyaksikan keindahan matahari Bali. Dan saat sore di uluwatu, serta iringan tarian tradisional bali yang eksotis adalah cara yang sempurna untuk menyaksikan keindahannya…

Ketika pertunjukan selesai, hari telah gelap. Malam itu, kami kembali ke legian.

Jalan legian yang terlihat semarak dan menyenangkan pada malam hari ini  kemudian berhasil menggoda kami yang sudah terlihat sangat lusuh ini untuk berjalan-jalan santai dari toko ke toko, menghabiskan sisa malam kedua kami di pulau Bali…

Vacation week: Bali part I

Here comes the sun

Here comes the sun

And I say

It’s Alright…

Entah daya magis apa yang dimiliki sama benda langit yang bernama matahari. Yang pasti, dia selalu membuat saya terpesona akan keindahannya. Saat dia terbit, saat dia terbenam, atau bahkan saat dia tidak muncul sama sekali.

Menurut sebuah teori sains, bahkan saat dimana matahari tidak muncul pada malam hari, toh manusia yang berada di Bumi tetap bisa menikmati sinarnya melalui benda langit lain bernama bulan yang juga tidak kalah menakjubkannya.

Harus saya akui, salah satu tempat favorit saya untuk menikmati ciptaan Tuhan ini adalah di sebuah tempat di mana para dewa menghabiskan waktunya untuk liburan.

Yep!

Pulau dewata, Bali.

Begitu menakjubkannya matahari dan Bali, merupakan alasan utama mengapa saya memilih tempat ini untuk melarikan diri dari kesibukan dan begitu banyak kekacauan jalanan Jakarta…

DAY 1, July 15th 2008

Untuk mencapai bandara Soekarno-hatta tepat waktu, saya dan Riri berencana untuk berangkat pukul 07.30 dari rumah Riri. Tapi, apa daya. Meeting Garuda di Dadaku malam sebelumnya membuat saya tidak sempat melakukan persiapan untuk berangkat. Terpaksa saya harus pergi tidur pukul 03.00 pagi. Alhasil, jadi telat bangun.

Karena sedikit keterlambatan yang disebabkan oleh kelalaian saya dan ke- berlama-lamaan saya di rumah Riri, maka kami gak bisa mencapai bandara pukul 08.00. Sementara teman kami, Fitri, sudah terlebih dahulu tiba di airport.

Setibanya disana, kami langsung menuju booth check in mandala yang ternyata belum dibuka.

Ok, ternyata kami yang kepagian.

Dari situ kami menyadari akan betapa besarnya niat dan semangat kami untuk berlibur di pulau Bali. Huehehe;p Tapi, eitsss… ternyata ada loh yang jauh lebih niat dan lebih bersemangat buat ke Bali…

Segerombolan abg yang sangat modis dan trendy bergaya vacation in style ala majalah Go girl! pun banyak kami jumpai di ruang tunggu pesawat. Atribut mereka antara lain celana pendek sepantat, tank top, baju gombrong tapi transparan, kacamata segede muka, sampe topi segede wajan. Antara heran, terkesima atau iri kami berkata “Huu.. kalah kite.. “ hauahahaha;p

Dan… pukul 13.00 WIT pesawat pun mendarat di bali. Akhirnya!

Hotel yang kami tempati cukup menyenangkan. Dekat sekali dengan jalan Legian yang siang itu segera kami jelajahi untuk makan siang. Sepanjang jalan yang kami telusuri, tapi tak juga menemukan tempat yang klik di hati buat makan siang. Huh!? Dan ketika kami nyaris putus asa, saat itulah kami melihat sosok si kakek tua berdasi. Yes. KFC. Penyelamat dunia resiko gagal liburan karena salah makan. Huehehe;p

Setelah kenyang, kami pun menghabiskan sisa waktu untuk hanya menikmati indahnya matahari terbenam dan memperhatikan tingkah laku si bule autis di pantai Kuta…

The Dark Knight

Rating: ★★★★★
Category: Movies
Genre: Action & Adventure

+ *****

Briliant!

Belum pernah gue nonton film superhero semacam ini…

Pesan saya “just go and watch!”

Veronica Guerin

Rating: ★★★★★
Category: Movies
Genre: Drama

Buat orang yang pernah bercita-cita jadi jurnalis dan ikut kelas laporan mendalam, gue merasa sangat kuper ketika baru beberapa menit yang lalu mengetahui siapa itu Veronica Guerin. Thanks to Jerry Bruckheimer & Joel Schumacher who brought this brave character to a movie, yang bisa bikin gue mengenal jurnalis investigative asal irlandia ini.

Nonton film ‘Veronica Guerin’ seperti melihat visualisasi dari semua teori yang diajarin mas Arya gunawan di kelas laporan mendalam. Hanya saja, ini adalah versi worst case scenario-nya… karena ya, gitu. Si wartawan harus menanggung resiko terburuk.

Mati.

Tapi, yang harus diinget adalah bahwa ketika lo berniat membawa perubahan kemudian lo berusaha keras, dan melakukannya dengan ikhlas dan sepenuh hati, sekalipun resikonya mati… semua usaha yang lo lakukan gak akan pernah sia-sia…

Very good one. Watch it!

ps: Cate Blanchett emang keren banget aktingnya. Jago. lol;p

pertandakah?

Entah ini firasat, pertanda atau bahkan pukulan ironi yang menimpa gue Jumat malam kemarin. 

Cerita berawal ketika sejak beberapa waktu yang lalu gue berencana pergi ke Bali buat liburan. Karena pekerjaan yang gak jelas tanggal-tanggalnya, maka gue sama beberapa orang temen langsung aja ‘nembak’ waktu untuk kapan kita pergi ke Bali. Dipilihlah tanggal 15 Juli. Dengan perkiraan pada tanggal tersebut gue udah terbebas dari pekerjaan. Mengingat tanggal yang kami pilih adalah high season, kami segera booking tiket pesawat dan hotel yang semuanya langsung dibayar cash.  Kita juga udah merencanakan tempat-tempat apa yang akan kita kunjungi selama di Bali.

Ternyata takdir berkehendak lain. Hingga Jumat Malam, pekerjaan belum selesai. Huh!?! 

Panik, bingung dan resah. Karena pekerjaan yang belom selesai itu, bikin gue gak mungkin meninggalkan Jakarta. huh?!? di mana nurani gue sebagai filmmaker!??! Huehehhe;p

Bingung, karena ini adalah satu-satunya waktu yang bisa gue manfaatkan buat refreshing pikiran yang udah sumpek banget, mengingat gue belom liburan dari kapan tau. Selain itu, tanggal 20 Juli ini gue juga harus mengerjaan pekerjaan panjang hingga November. ditambah lagi skripsi yang harus diselesaikan semester ini. Dengan kepadatan kegiatan macam itu, bagaimana cara saya mengambil waktu untuk liburan?!?! 

Resah, karena kalau rencana ini gagal, berarti gue gak akan bisa  liburan sampai paling cepet akhir tahun ini (itu juga kalo skripsinya udah jadi). Selain itu, gue juga dah bayar tiket full, dan siap berangkat. 

Oke.

Kembali ke peristiwa Jumat malam. 

Malam itu, gue datang ke resepsi pernikahan si Oka. Begitu keluar dari pintu lift, gue mendengar sayup-sayup musik gamelan bali. One thing that cross my mind that time was… “ya ampun, Bali..”

Begitu masuk ke dalam ruangan resepsi, nuansa Bali sangat kental terasa. Tari-tarian dan musik khas Bali gak henti-hentinya dimainkan sepanjang resepsi berlangsung. Belum lagi makanan-makanan khas bali yang juga disajikan… 

 

Kemudian gue bertanya “Firasat, pertanda, ataukah  pukulan ironi yang menimpa?”