Monthly Archives: December 2008

travel blog: Bandung part II

Karena gak tahan berlama-lama di kamar, kami segera beranjak meninggalkan hotel busuk ini sambil membawa kembali barang-barang kami ke dalam mobil. Yah, maklum….setelah begitu banyak keparahan yang terjadi di dalam kamar, kami juga jadi gak yakin sama keamanan hotel ini. Lagian juga pintu kamarnya gak bisa dikunci dan susah banget dibuka dan ditutup Haiahhaha. PARAH!!!! Tapi, walaupun begitu, kami semua mencoba untuk tetap tabah dan menerima kenyataan bahwa hotel ini adalah satu-satunya tempat untuk kita tinggal malam ini. Abis, hotel lain dah pada penuh. Lagian kita udah terlanjur bayar.. Hiks.. jadi agak menyesal..;p

 

Kami kembali menerobos kemacetan kota Bandung menuju Paris Van Java kalo orang bandung bilangnya PPJ, karena mereka gak bisa spelling ‘V’.   Niatnya, ke PPJ ini mau beli tiket buat nonton “the spirit” buat midnight.  Karena kebodohan gue, kami salah mengambil jalan,  dan segera nyasar. Hahahaa.. terpaksa, harus mencari jalan lain untuk menuju PPJ. Dalam keputus asa-an dan kelelahan karena maccet, Ira dengan rock n rollnya menerobos larangan untuk memutar balik di Dago. Bodohnya, dia putar balik pas di depan pos polisi yang pada saat itu lagi ditongkrongin sama 4 sepeda motor polisi dan beberapa petugas di dalam pos. Dari dalam kaca mobil, gue bisa melihat jelas muka pak polisi yang kaget dan spontan menunjuk ke arah mobil kami. Haihahahahahahaa… Dan gue dan mela gak bisa menghentikan tawa.. sampai akhirnya gue mual dan.. (you know what happened?!?) Heuhehe 

 

Setelah berhasil nyampe PPJ dan beli tiket, kami melanjutkan perjalanan menuju sapu lidi resort yang bagus banget katanya Mela. Di sana kita bisa naik sampan keliling resort sambil menikmati pemandangan alam dan udara yang sejuk (kata Mela). Satu-satunya masalah adalah, Sapu lidi itu ada di daerah menuju Lembang. Dan bener aja loh.. MACET GILA!??!?  Dan lagi-lagi kami harus mengurungkan  niat pergi dan memutar kea rah yang lebih manusiawi. Dago Pakar. Dan untuk menghibur kebetean saat macet, kami memborong buah manggis yang dijajakan di pinggiran jalan menuju Lembang, sambil main tebak-tebakan buah manggis siapa yang paling manis..halah.. hauahahahha;p

 

Akhirnya kami sampai di sebuah tempat yang sangat nyaman bernama Lisung. Sepertinya, dari semua tempat di Dago Pakar, ini adalah tempat favorit gue. Bentuknya seperti rumah-rumah Jawa yang terbuat dari kayu, tapi, tempat duduknya dirancang sedemikian rupa agar menghadap ke luar, which is pemandangan kota Bandung yang bagus banget. Tempat ini pas banget berada di tengah, jadi kita bisa melihat kota Bandung dalam view panorama (kalo di kamera), atau memanjang gitu. Gunung yang mengelilingi kota Bandung juga terlihat sangat jelas, seakan-akan Bandung adalah sebuah kawah dari Gunung yang sangat besar. Ditambah laggi view pesawat yang lalu lalang di bawah kami. Hihihi.. Keren banget. Saking bagusnya, gue dan Mela berpikiran untuk menyewa sofa di tempat ini untuk tidur nanti malam, ketimbang harus kembali ke hotel busuk tadi. Huahahahaha;p

 

Lisung juga menyediakan berbagai macam makanan yang lumayan enak. Dari mulai makanan besar, sampai makanan ngemil kaya pizza dan calamari yang cocok banget buat diimakan sambil bergosip dan nyari inspirasi buat bikin pertanyaan buat games di tahun baru, seperti yang dilakukan ira, yang akan bertindak sebagai host dalam acara malam tahun baru UPS beberapa hari lagi…

 

Sepulang dari Lisung, bayangan hotel busuk kian menghantui kami. Dalam hati gue bilang.. “Im SO.. not gonna coming back to that hotel..” haiaahahaha;p. Setelah berdiskusi dan mnegeluarkan kegelisahan kami masing-masing,  kami  pun akhirnya memutuskan untuk tidak kembali hotel busuk tadi. Dengan sedikit “ngarep” kami kemudian mulai mendatangi satu per satu hotel di Bandung. Setelah lebih dari 5 hotel kami datangi, akhirnya kami menemukan sebuh hotel yang sangat PW di daerah cimbeleuit. Nama hotelnya Concordia. Perpaduan antara rumah tua dengan bangunan modern minimalis. Entah kenapa, gw sama anak-anak langsung merasa klik sama tuh hotel. Sambil put our fingers cross, kami pun mendatangi lobby ddan mulai menanyakan pertanyaan yang sama yang selalu kami ucapkan ke penjaga lobby “Ada kamar kosong?”. Dan akhirnya kami pun mendengar jawaban yang melegakan selain “ Maaf, sudah penuh..”, si mas-mas penjaga lobby pun bilang “Masih ada satu kamar type modern…”. Dan kami pun langsung jingkrak-jingkrak kesenengan. Hauahhahaah… yah, maklumlah luapan kebahagiaan dan kelegaan untuk gak tidur di hotel busuk tadi. Kebetulan lagi, di hotel itu, gue melihat sebuah mobil yang sangat familiar. Yep. Mobilnya si Emir, bocah yang main di Garuda di dadaku. Dengan segera gue  menelfon mamanya emir, dan benar juga. Ternyata mereka emang lagi stay di hotel itu. Dan kamarnya cuma beda 2 kamar sama kamar yang kita tinggali. Hmm.. what a coincident? Kebetulan banget, karena seharisebelumnya gue baru aja sms-an sama tuh bocah. Hihihi.. kangen juga sih… ;p Btw, kamar yang kami tempati emang gak gitu besar, tapi sangat nyaman dan efisien. Fovorit spot gue adalah balkon kecil yang ada di samping kamar. PW.  Recommended banget nih buat orang-orang yang pengen nginep di Bandung,  karena harga kamarnya juga gak mahal.

 

Setelah akhirnya menemukan tempat yang nyaman buat diinepin, kita seggera mengejar waktu untuk nonton The Spirit di PPJ. Seperti yang sudah kita duga sebelumnya, jalan menuju PPJ is Matal, alias Macet Total. Alhasil, 1,5 jam di mobil pun kami manfaatkan buat curhat on line.

Tapi ternyatam curhat on line tak kunjung membuat kami lupa dengan macet yang terasa semakin menggila, yang lama-lama akhirnya membuat kami dan pak polisi juga jadi gila. Karena bingung mau diapain lagi, maka jalan menuju PPJ pun ditutup sama pak polisi. Hmmm?!?! gedeg! Padahal dari jalan yang ditutp itu, PPJ hhanya berjarak 250 meter-an. Huh! Di tengah kekesalan dan ketidakberdayaan melawan pak polisi yang stress, kami melihat sebuah hotel. Langsung aja otak iseng kami berjalan. Yep. Kami menyamar jadi tamu hotel biar bisa parkir di areal hotel (yang di depannya udah ada tulisan KAMAR PENUH). Haiahahahha. Dan berhasil!  Pak satpam hotel yang gak tau apa-apa itu lalu memberikan kami spot khusus. Haiahahaha.. Maaf ya, pak..;p Dari hotel tadi, kami kemudian berjalan kaki menuju Paris Pan Japa..

 

 

                                                       (to be continued…)

Advertisements

bandung

travel blog: Bandung part I

Ola, blog!

 

Setelah gagal menjelajahi pulau seribu karena gelombang tinggi, gagal camping karena bawa mela dan kartika, gagal nginep di resort tengah hutan karena keburu full-book we finally decided to go to Bandung. Yep. Bandung lagi.. bandung lagi.. haiahahaa… Ini adalah kali ketiga gue pergi ke bandung dalam waktu dua minggu ini, dan kali kedua bersama ups, juga dalam dua minggu terakhir. Bosen sih, tapi apa mau dikata, keadaan hanya mendukung kami untuk berlibur di kota Bandung.

 

Niatnya sih mau jalan-jalan ke Bandung selatan, sambil liat kawah putih dan maen paintball, tapi lagi-lagi niat itu harus kami urungkan karena, macccceeeeeeeeeeetttttttt!!! Di tengah kemacetan yang menggila itu, peruut kami yang lapar kemudian membuat kami memutuskan untuk berbalik kearah rah kota Bandung. Hiahaha..;p

 

Pemberhentian pertama kami adalah tempat nasi liwet di daerah dago pakar, yang letaknya gak jauh dari hotel yang kami tuju. Namanya “rumah joglo.”

 

Lokasinya berada di tebing, jadi agak berbeda dengan tempat-tempat lainnya. Restoran ini bukan naik ke atas, tapi menurun ke bawah. Tempatnya rindang banget. Makanannya juga cukup enak. Selain nasi liwet, di sini juga nyediain nasi timbel lengkap dengan pilihan lauk yang mantab! Porsinya sangat mencukupi perut kelaparan kami yang udah nahan laper dari jam 7 pagi. Harganya juga standard. Gak mahal, tapi gak murah juga. Cukup masuk akal buat kantong mahasiswa yang lagi gak punya kerjaan dan harus membiayai satu semester skripsi macam gue.. lol;p Intinya, tempat ini well recommend lah buat dikunjungin kalo sewaktu-waktu ada yang mau pergi ke Bandung.

 

Setelah selesai makan, kami pun menuju ke hotel. Sebagai tambahan informasi, ini adalah satu-satunya hotel yang kosong, dari 25 hotel yang sudah dihubungi lewat telfon sama cowonya Karts. Huehehehe…;p Gue pun gak sabar untuk segera sampe ke hotel. Cape banget gara-gara macet dan masih rada pegel karena malam sebelumnya gue sama keluarga juga  baru nyampe dari Bandung. Jadi masih rada males liat jalanan lagi.. huehehe;p

 

Setelah menerobos kemacetan dijalan-jalan sempit kota Bandung, akhirnya kami pun sampe di hotel yang dituju. Hmmm… seketika bayangan gue tentang hotel nyaman dan menyenangkan buat liburan segera buyar setelah melihat lokasi hotel yang bersebrangan dengan puskesmas dan balai kecamatan yang kebetulan lagi ada acara kawinan.  Sambil harap-harap cemas, kami pun segera menuju kamar yang sudah dipesan. Dan.. you know what, seketika kami memasuki kamar, ira yang punya asma segera megap-megap. Mela & petra mulai merasakan gatal-gatal. Dan gue yang mencium bau-bau tidak sedap pun segera membuka jendela kamar. Seketika itu juga suara lagu dangdut dari pesta kawinan di depan hotel semakin nyaring terdengar. Dan seperti menambah parah keadaan, kamar mandinya pun terlihat memprihatinkan.

 

Mela

(sambil menuju kamar mandi)

“eh, me’.. liat kamar mandinya yuk..”

Ame

“yuk…”

Mela

(sambil melihat ke kamar mandi yang lampunya masih mati)

“Oke kok me’…

Ame

(sambil menyalakan lampu kamar mandi dan muka gak yakin)

  OK?!!?’  


Mela

(baru sadar kalo ternyata kamar mandinya PARAH)

“ OK?!!? “

 

 

 

(to be continued…)

family time: ciwideuy

kawah putih & penangkaran rusa

hari ibu

Seorang ibu rela merayakan ulangtahun putrinya yang pertama dengan pesta mewah di Ritz Carlton Hotel. 

Seorang ibu lainnya bahkan rela melihat 3 anaknya yang cacat mati terlebih dahulu ketimbang dirinya.
GOD!!!!

Mannen som elsket Yngve (The Man Who Love Yngve)

Rating: ★★★★
Category: Movies
Genre: Drama

Awalnya, gue pikir judul film ini adalah The Man Who Love YNGWIE. Alhasil gue pun mengintrepetasikan bahwa ini adalah cerita tentang seseorang yang ngefans banget sama Yngwie Malmsteen, si gitaris handal itu.

Ternyata, film ini menceritakan tentang kehidupan seorang remaja bernama Jarle Klepp.

1989. Tahun runtuhnya tembok Berlin.

Kota Stavanger, Norway. Jarle Klepp, 17 tahun. Tidak memiliki banyak kegiatan, dan juga tidak memiliki banyak teman. Hidupnya terasa membosankan. Sampai akhirnya ia menjadi akrab dengan Helge, teman sekelasnya dan memutuskan membentuk sebuah band bernama Mathias Rust Band. Dalam saat yang bersamaan ia pun berhasil menaklukan hati seorang wanita yang memang sudah diincarnya sejak 6 bulan yang lalu. Kehidupan Jarle pun menjadi lebih berwarna.

Namun, justru pada saat yang menyenangkan itulah muncul seorang anak baru di kelasnya, bernama Yngve, pria, 17 tahun. Berbeda 180 derajat dengan Jarle yang berambut merah dan berantakan, Yngve terlihat sangat rapih dan indah seperti dewa-dewa yunani dengan rambutnya yang blonde.

Entah mengapa, sejak pertemuan pertama mereka ada sesuatu yang aneh. Sampai akhirnya Jarle banyak menghabiskan waktu bersama Yngve, hingga membuat pacar dan bandnya terlantar…

Yep! dan.. you know what happen when THE WALL is fallen…?!?! hauahahha..

Tapi biarpun begitu, ini adalah salah satu film favorit saya di Jiffest 2008. Great story, great cast and great music! Jadi, kalo lo suka sama stone roses, REM, Joy Division, The Cure, dan The Pixies.. you gotta love this movie!!!

Enjoy Jakarta (international film festival)

Suara-suara manusia mengumandangkan takbir kian bersahut-sahutan diantara bisingnya suara kendaraan sepanjang sudirman. Dan begitu keluar dari pintu lobby FX, saya baru menyadari bahwa ini adalah malam takbiran. Shoot. Malam takbiran dan saya berkeliaran dari bioskop ke bioskop. Huh?! 


Agak sedikit aneh memang, mengingat saya bukan Joni yang punya kewajiban untuk mengantar roll film dari satu bioskop ke bioskop lain. Huahahaha..  Tapi, sama seperti Joni, kali ini saya harus mengejar waktu untuk menuju studio Blitz yang terletak di Grand Indonesia di daerah bundaran HI, karena kurang dari setengah jam lagi “The Man Who Loves Yngve” akan segera diputar.  



Well, ini adalah hari kedua saya datang dalam pemutaran film-film Jiffest. Meskipun melewatkan 2 film yang sebenarnya sudah saya tunggu-tunggu seperti “Happy Go Lucky” dan “Dunya & Desie”, saya masih beruntung karena film-film lain yang saya saksikan juga tidak kalah bagus. Seperti “Bienvenue chez les Ch’tis” asal perancis yang berhasil membuat saya tertawa dari awal hingga akhir. Film ini menceritakan tentang seorang pria yang karena kebodohannya harus ditransfer ke wilayah Utara Perancis, yang menurut orang-orang adalah sebuah tempat yang sangat menyedihkan dan mengkhawatirkan untuk ditinggali. Selain itu, saya juga menyaksikan film Jordan berjudul “Capten Abu Raed” yang menceritakan tentang seorang kakek yang bekerja sebagai janitor di bandara, dan tinggal di dalam sebuah lingkungan miskin.  Akan tetapi, dengan kebijakan dan kesabarannya, sang kakek miskin ini toh bisa memberikan harapan baru bagi anak-anak di lingkungan tempat tinggalnya. Hmm.. Amazing. Really touchy, meskipun filmnya lambaaaaaaaaaat bgt. lol 


Kemudian film berjudul “Khuda Kay Liye”, film Pakistan yang menceritakan tentang pertentangan Islam Modern dan garis keras di pakistan yang baru saja saya saksikan, yang membuat saya berpikir dalam perjalanan, dan semakin membuat saya bersyukur bahwa pada detik ini saya hidup di Jakarta sebagai warga negara Indonesia. Yep. Gak kebayang gimana kalau saja saat ini saya hidup di Pakistan. Huh? Mungkinkah di malam takbiran saya bisa berkeliaran ke sana ke mari untuk menonton film?!  


Jiffest 2008


Our Pass

Enjoy the festival!

Garuda di Dadaku: shooting days

Shooting Garuda di dadaku on November 2008

it’s a wrap!

Diantara kerasnya dentuman musik dan free flow-an minuman keras, saya memilih untuk berdiam diri dan meneguk coca cola di sebuah sudut venue.

 

Saya bahagia.

 

Tapi kebahagian ini ternyata bukan satu-satunya rasa yang saya miliki pada malam itu.

 

Sesaat sebelumnya, Cesa, sang editor memperlihatkan teaser dari film yang baru saja selesai kami kerjakan. Semua orang menyaksikan dengan sangat antusias. termasuk bocah-bocah pemeran film, yang duduk tepat di sebelah saya. Ketika teaser mulai dimainkan, saya bisa melihat ekspresi si bocah yang terlihat terkejut dan takjub melihat dirinya yang bermain bola dengan begitu lincahnya dalam film. Sepertinya dia tidak pernah menyangka, bahwa kerja kerasnya akan membuahkan hasil sebegitu bagus. Dan sama seperti si bocah, saya juga merasakan hal yang sama. Begitu selesai, dia memberikan tos dan senyum bahagianya kepada saya.

 

 “It’s a wrap, boy! and it makes me sad…”

Advertisements