Monthly Archives: July 2009

Hi Guys! Mau ngasih info aja kalo ada yang berminat buat belajar menulis skenario film, kita ngebuka kelas penulisan skenario bersama Salman Aristo, penulis skenario Catatan Akhir Sekolah, Ayat-Ayat Cinta,Laskar Pelangi dan Garuda di Dadaku. Kelas akan dimulai bulan Oktober, 2 hari seminggu. Setiap hari Sabtu dan Minggu (10 kali pertemuan). Tempat: Jln. Abdul Madjid, Cipete Terbatas buat 10 orang aja per kelas. Untuk biaya & info lebih lengkapnya bisa menghubungi plotpointwritings@yahoo.com

Advertisements

Hallo Bandoeng & Yasmin Ahmad

Ibu yang kecil dan tua kebuyutan. Di wartel.

Karyawan bilang dengan bersahabatan: “Bu, nanti anda dengar suara Bandung”

Ibu bergetar dengan kaki kaku, Dia ambil mikropon.

Terus dia dengar, aneh bin ajaib, Suara putra nya yang tenang.

 

“Hallo! Bandung!”,

“Iya bu, saya hadir”

“Hallo anak tersayang” dia bersedu

“Hallo, hallo!

Ibu tua apa kabarnya?”

Terus dia balas aja ” Saya kangen sekali sama kamu!”

 

“Sayang” dia tanya “Istrimu kecil dan hitam, apa kabarnya?”

“Baik aja” katanya “Kita ngobrol

Tentang kamu tiap hari

dan di malam hari anak kecil berdoa

Sebelum bobo

untuk neneknya yang mereka tidak kenal

Sambil cium foto mu”

 

“Hallo! Bandung!”,

“Iya bu, saya hadir”

“Hallo anak tersayang” dia bersedu

“Hallo, hallo!

Ibu tua apa kabarnya?”

Terus dia balas aja ” Saya kangen sekali sama kamu!”

 

“Bentar, bu” dia bilang dengan senyum, “Anak saya yang paling muda disini juga”

Terus ibu dengar dengan jelas “Nenek tersayang, Tabik tabik!”

Tapi ini telalu berat bagi dia.

Dia berbisik: “Terima kasih Tuhan saya masih sempat mendengarnya ….”

Terus dia menangis dan jatuh mati.

 

“Hallo! Bandung!”

“Iya bu, saya hadir!”

Tidak dibalas

Dia dengar napas terakhir

“Hallo! Hallo” berbunyi dari seberang lautan.

Sudah meninggal dunia. Cucu nya bilang: “Tabik”

(taken from http://djawatempodoeloe.multiply.com/music. 

translate by Ivan & olivier.2007)


Syair ini diambil dari  lagu berjudul “Hallo, Bandoeng” . 


Sebuah lagu berbahasa Belanda yang turut populer oleh Wieteke van Dort pada tahun 1979, walaupun  sebelumnya terlebih dulu diperkenalkan oleh Willy Derby di akhir tahun 1920-an. Diceritakan kala itu, dunia baru saja berkenalan dengan telepon.

 

Menarik kan, blog?

 

Ever wonder gimana nasib si nenek tua dan si cucu jika saja telpon dikenal lebih awal? Ever wonder kalo perbedaan ras gak bikin seorang nenek berhenti mencintai cucunya? Atau mungkin cerita ini bikin lo berpikir, bagaimana rasanya hidup di belahan dunia yang berbeda yang membuat lo bahkan tidak mengenal dari mana lo berasal?

 

Huh!? Menyimak lagu ini emang bikin gue mikir banyak hal malam ini. Banyak hal. Sadar kalo diversity, kelompok, ras, kebangsaan, emang bukanlah satu hal yang esensial dari hidup manusia. Tapi lebih dari itu, rasa cinta, humanity , dan family adalah yang utama.  

 

Sama juga seperti apa yang Yasmin Ahmad pernah sampaikan dalam karya-karyanya. Diversity itu ada bukan untuk membuat kita membenci satu sama lain.  Diversity itu ada bukan untuk membuat kita merasa lebih hebat sehingga enggan mengakui kehebatan orang lain hanya karena darimana dia berasal dan bukan apa yang telah mereka buat. Hmmm… For that, I have to say my biggest regret to Yasmin Ahmad .

 

Akh. Sudahlah. Time to go to sleep. Night, blog.

Attachment: Hallo Bandoeng.mp3

Jakarta, this summer

See that picture, blog? Empat orang di tengah itu bukanlah John, Paul, Ringgo and George meskipun ya… mereka juga berasal dari Liverpool. Liverpool Football Club, that is. Gambar ini diambil di sela-sela tour asia mereka. 



Sama seperti Liverpool, beberapa tim Inggris lainnya juga memanfaatkan liburan premiere league ini buat mengadakan pertandingan eksibisi buat promosi, sekaligus mengunjungi fans-fans mereka yang tersebar di berbagai belahan dunia. Sayangnya, Liverpool FC gak mencantumkan Jakarta jadi destinasi mereka di asia. Hiks. Sedih.



Tapi blog, sebenarnya dalam hati gue berharap bahwa tahun depan tim sepakbola kesayangan gue ini akan mengunjungi Jakarta. Yep. Gak berlebihan kan, harapan gue. Apalagi ketika mendengar klub Manchester United berencana tanding melawan timnas Indonesia di jakarta sejak beberapa bulan yang lalu. Harapan gue ini kemudian berubah menjadi optimisme yang cukup realistis. Once MU felt the football madness in Jakarta, maka berita kegilaan sepakbola ini akan tersebar ke berbagai penjuru dunia, dan kesempatan buat Liverpool buat maen di sini juga semakin besar karena toh, Fansnya mereka gak kalah heboh dan fanatik sama fans2 MU. Lagian, semakin banyak klub professional yang datang dan tanding sama timnas Indonesia, maka akan semakin positif impactnya buat pemain-pemain timnas. Slowly but sure, pengalaman mereka bertanding lawan klub profesional kelas dunia mau gak mau bakal ngasih pengalaman dan pengetahuan cara maen sepakbola yang baik dan benar. Dan bukan gak mungkin timnas bakal ter-improve skill organisasi permainannya  yang amburadul itu. 



Huh. What a perfect dream, ya? Hingga tepat seminggu yang lalu harapan dan impian itu sirna, ketika sekelompok orang yang entah siapa menghancurkan itu semua dengan peledakkan bom di 2 hotel Jakarta. 



My Hope, My Dreams of Liverpool FC and Indonesian football.
Are being ripped off. 



What do you expect me to feel, blog? Saat ini gue gak bisa merasakan hal lain selain Marah, Kesal dan Kecewa. Gue gak tau semua rasa ini harus ditumpahkan ke  siapa. Gak adil juga rasanya kalo pikiran ini kemudian men-judge kelompok-kelompok tertentu. Tapi sekali lagi, blog… What do you expect me to think!? Siapapun mereka, gue berharap mereka mendapatkan hukuman yang setimpal.


Jakarta lately

July 20th, 2009
Aksi Keprihatinan Bom Ritz&Marriott @17 Juli 2009.

saturday night and the fever


“Its Saturday Night, People!”



So? Hehehe… Emang malem minggu kali ini gak ngaruh-ngaruh amat buat gue. Padahal, harusnya, instead of writing this stupid blog, detik ini gue harusnya lagi cekikikan sama temen-temen gue yang lagi spend this weekend @Bandung.



Tapi apa boleh buat? Revisian segunung ini bener-bener bikin gue stuck di Jakarta. Makan malem sama keluarga sambil merayakan kelulusan gue di PIM. Padahal sebelumnya banyak banget rencana buat ngabisin hari di minggu ini buat liburan di luar kota sama bokap nyokap, juga sama anak-anak UPS tadi…  hiks… 







Tapi blog, pelajaran yang gue dapet selama 25 tahun jadi orang Jawa, adalah seberapapun susahnya hidup, lo harus berpikir positif dan berkata.. ” Tapi, untungnya… “. hahaha Manteb ya? Ya jadi gitu blog, untungnya hari ini dapet kabar kalo penonton  Garuda di Dadaku udah menyentuh angka 1 jula penonton. Whew! senangnya!  Yah, walaupun belom sebanyak penonton Ayat-Ayat Cinta.. tapi entah kenapa kegembiraan gue kali ini melebihi ketika gue tau jumlah penonton Ayat-Ayat Cinta yang 3 juta-an penonton itu. Hmm?!?! Mungkin karena film ini emang bener-bener special buat gue. YEP. Film, Football, Music. Perfect combinations.



Oiya, blog. Inget gak gue pernah nulis sesuatu tentang anak-anak kecil di daerah rumah gue yang doyan nyanyiin lagu-lagu cinta orang dewasa sambil teriak-teriak kalo sore-sore? http://amelyaoktavia.multiply.com/journal/item/82/tentang_anak_jaman_sekarang
Sore ini, tebak lagu apa yang mereka nyanyiin?



“Garuda di Dadaku, Garuda Kebanggaanku, Ku Yakin Hari ini Pasti Menang…..” 
Advertisements