Monthly Archives: September 2009

OPEN HOUSE PLOTPOINT WRITINGS. Penulsan skenario film, novel dan artikel bersama Salman aristo, Eka Kurniawan, Hagi Hagoromo dan Raditya Dika. 10 Oktober 2009 @ Jln. Abdul Madjid Raya 6A. Be there!

Advertisements

my fav boy & his lovely family!

Love to spend the evening with ’em 🙂

In This Photo: Emir, Karil, Omar, Tante Trien, Om Heri, Ifa, Me.
Loc: Pancious, Pacific Place
Date: September 13, 2009

keep on running

Ola blog!


Heaven knows that it’s a crazy ride
It’s never perfect all the time…


Orang bilang, life in perfection itu gak bagus buat seorang artist. Katanya sih, semakin gak sempurna hidup seorang artist, maka semakin bagus juga hasil karyanya. Hmm.. cukup logic sih. Karena ketika sang artist itu berada dalam keadaan yang perfect, dia akan cenderung puas dengan posisinya dan bikin dia gak bisa bereksplorasi.


Mungkin kalimat-kalimat tadi emang gak sepenuhnya bener, blog. Tapi itu bagus buat ngebentuk positive thinking kita yang lagi dalam masalah besar ini. Karena menurut buku ‘Sukses di Usia Muda’, positive thinking adalah sebuah point penting yang harus dilakuin buat siapa aja yang lagi merintis karier di usia muda dan labil, macam gue ini. Lol;p


The thing is, blog kita harus mengambil sisi positif  walaupun   pengesahan UU perfilman yang baru aja dilakukan sama pemerintah & DPR itu emang suddenly bikin gue ngeri dan khawatir ngebayangin masa depan industri perfilman Indonesia. Apalagi ketika gue udah mulai untuk memutuskan bahwa gue bakalan terus jalan di sini. God! It’s terrifying! Gak kebayang kan kalo kreatifitas filmmaker itu dibatasin dan akhirnya harus seragam berdasarkan point of view kelompok tertentu di negeri ini. Padahal hal itu adalah hal yang paling esensial dalam pembuatan film. Kalo kreativitas aja dibatasin, gimana filmmaker negeri ini bisa bikin film yang berkualitas? Yang ada juga bakal menghasilkan film-film membosankan yang akhirnya bikin orang males dateng ke bioskop. Dan gak hanya itu, film yang harusnya bisa jadi media untuk menampilkan realitas sosial dan mendidik masyarakat pada akhirnya Cuma bisa digunakan jadi alat pengontrol masyarakat dan propaganda oleh pemerintah. Huh!? What kind of democracy is this?


Lebih parah lagi, orang-orang yang ngebikin UU ini seakan menutup mata sama kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi. Mungkin di otaknya cuma kebayang komisi yang bakal didapet begitu undang-undang dodol ini disahkan. Yah, itung-itu lumayan kan buat tabungan hari tua?! Huh. Menyedihkan! Sekali lagi orang-orang di sana gak memikirkan dan gak mengerti betapa berharganya kebebasan untuk sebuah kreativitas.


This creativity is our passion. Our life.

We’ll never let anything turn us down.


Amazing DIY

perjalanan kerja yang benar-benar membuka mata saya. amazing!

Advertisements