Monthly Archives: December 2009

impressed by these films on 2009


Kalo ditanya tentang gimana saya menghabiskan sebagian besar waktu dalam hidup saat ini, saya akan menjawab: nonton. Yah, emang sih gak kemudian semua film yang ada di dunia ini saya tonton… tapi paling gak, lumayan lah bikin uang gajian jadi berasa gak pernah cukup.


Sepanjang tahun 2009 ini, ada banyak film yang saya saksikan. Tapi gak semua saya suka. Subjektifnya, saya selalu berpendapat bahwa film yang yang bagus adalah film yang bikin kita membawa sesuatu selesai kita menyaksikannya. Apapun itu. Perasaan gembira, sedih, takut hingga kegelisahan untuk berbuat sesuatu. Film yang meninggalkan kesan di hati saya. Ini dia:

. Garuda di Dadaku
Saya sangat suka film ini. Bisa dibilang ini adalah film yang paling meninggalkan kesan di hati saya tahun ini. Partly because i made this movie and i love how the result goes. I love how the kids act, the look, the mood, the music, the theme, the script, the directing, everything.  


. Cin(T)a
Awalnya gak berharap banyak sama film ini. Mungkin sama seperti film-film indie lainnya, maka ketika memutuskan nonton saya sudah siap dengan berbagai kemungkinan terburuknya. Ternyata saya salah. Diluar kekurangan teknis sound, film ini luar biasa. Segala kesempatan preachy yang ada dalam script, berhasil  menjadi ‘sesuatu’ karena permainan para aktor dan directing Samaria. Ditunggu film berikutnya!


. Talentime
Saya yakin, gak cuma saya yang menantikan film ini. Ada ratusan orang lainnya yang emang sudah bersiap-siap untuk mengantri demi mendapatkan tiket pemutarannya. Film panjang terakhir yang berhasil diselesaikan Yasmin Ahmad. Menjadi film terakhir yang membuat saya menitikkan air mata di Jiffest 2009. Amazing! 


. Entre les murs (the Class)
Film berbahasa Perancis. Saya menyaksikannya lewat DVD. Temanya, tentang multikultural. Di sebuah kelas. Di perancis. Di sini saya bisa melihat dan merasakan bagaimana perjuangan seorang guru dan institusi sekolah untuk mendidik siswanya yang berbeda ras, kebudayaan, pemikiran dan karakter. Semuanya, benar-benar seperti nyata. 


. The Orphan
Horor. Thriller. Slasher. Sejenisnya, saya tidak suka. Seriously. I hate it. Termasuk film yang satu ini. Bukan karena filmnya sampah setengah mati, tapi karena film ini membuat saya kesal setengah mati. Entah kenapa juga saya toh akhirnya harus menonton film ini sampai selesai. Tapi yang pasti, saya gak akan mengulanginya lagi. 


. District 9
Saya cuma bisa bengong ketika nonton film ini. Entah darimana datangnya ide dan visualisasi macam itu, tapi… wow! it’s just take my breath away. Walaupun dulu saya sering mengkonsumsi film dan cerita-cerita alien, tapi saya selalu mikir kalo film alien itu overrated. gak mungkin. gak real. Tapi district 9? I totally believe it! lol 


. UP
My Favorite. Sweet.


. This Is It
Seperti menonton konser di gedung bisokop. Baru kali ini saya menonton film yang penontonnya spontan ikut bernyanyi, teriak-teriak dan bertepuk tangan. Betul betul pengalaman yang tidak terlupakan.


. Sherlock Holmes
Guy Ritchie. Berhasil bikin semua komponen filmnya jadi satu kesatuan yang sangat sangat entertaining. Love it!!!!!


. (500) Days Of Summer
It’s not huge, not political, not animated, not a great visual effect movie, not violent. It’s a personal movie. As simple as the story of love. Semua orang pernah merasakan. Either it’s Tom, Summer or maybe Autum. It’s everyone’s story, and that’s what makes this movie special. 

The thing about Gus Dur

Beberapa tahun yang lalu, saya yakin gak ada yang benar-benar yakin tentang benar tidaknya keputusan MPR yang menurunkan GusDur  secara paksa dari istana. Sebagian dari kita memilih untuk gak melakukan apa-apa. 


Sebagian bingung. 
Sebagian termakan propaganda media. 
Sebagian lagi.. akh… saya tidak tahu. 


Tapi di hari terakhir tahun 2009, semua orang nampaknya setuju akan satu hal. 
Dia. Sangat berharga. 


Selamat jalan, Gus. Kami kehilanganmu.   

sedikit tentang kopi

Udah hampir satu minggu balik dari Bali. Tapi tetep, kepikiran kopi. 

Kopi tutmak

Kopinya sih kopi biasa, cuma waktu itu emang gue pesen yang latte karna gak gitu bisa mencerna espresso. Entah karena euphoria “lagi di Bali’ atau emang kopi itu berasa enak banget, toh sampe sekarang gue masih kepikiran. Apalagi, pas banget ketika sampe di jakarta keadaannya lagi hujan. Huh. What a great time to enjoy some fine coffee. 


Kadang-kadang sering terlintas di pikiran, kenapa gue jarang minum kopi enak. Padahal gue sering banget minum kopi. 


Satu-satunya tempat yang paling mudah dijangkau dari rumah dan menyajikan kopi yang enak menurut gue saat ini adalah starbucks. Sebenernya sih banyak juga coffee shop yang bermunculan di jakarta, yang merknya lebih lokal. Tapi toh ternyata gue masih lebih suka kopinya starbucks. Ini juga yang bikin gue kadang heran sendiri karena setau gue, negara ini adalah salah satu penghasil kopi yang paling berkualitas di dunia. Tapi kenapa… gue malah memilih minum kopi di salah satu aikon kapitalisme amerika ini? kenapa??? Mungkin selera gue yang aneh, atau mungkin emang coffee shop2 lokal itu emang kalah pintar meramu kopi-kopi lokal jadii kopi yang enak macam yang dilakukan sama starbucksHope the coffee expert will tell me someday…


By the way, belum lama gue juga punya pengalaman yang bisa di share mengenai coffee shop lokal. tempatnya agak jauh sih blog, di Bandung. Lumayan terkenal juga di kalangan pencinta kopi. 


Jadi, suatu hari gue dan keluarga berkunjung ke tempat ini. Sejujurnya, gue suka banget sama ini tempat. Arsitektur.. idenya buat bikin sebuah tempat minum kopi yang menyenangkan. Jenis kopi yang ditawarkan juga banyaak banget. seriusan bikin ngiler dan pengen nyobain semua. Tapi emang dasar gue agak males ngambil resiko di percobaan pertama, makanya selalu milih kopi yang sama. Coffee Latte. Rasanya cukup enak. Kopinya lumayan kenceng. dan sepengetahuan gue.. kopi yang mereka sajikan adalah kopi lokal. Hmm… menarik, walaupun gak sempet nanya kopi apa yang mereka gunakan. Tapi enak.


Keesokan harinya, harus bangun pagi. Ada jadwal screen test para aktor senior yang bakal main di film yang lagi gue garap. Bahkan, pagi ini gue udah janji sama salah satu diantara mereka untuk menjemput di bandara. 



Tapi, sebuah keadaan yang gak nyaman harus gue alami beberapa waktu setelah minum kopi tadi. Sepanjang malam enath kenapa perut ini berasa mules gak karuan. bolak balik ke toilet sampe jam 3 pagi. Alhasil, cuma punya beberapa jam tersisa sebelum memulai hari. Sial. 
Sisa waktu itu pun gue gunakan buat sekedar tidur ayam. karena gak mungkin, blog tidur pulas dengan keadaan seperti itu. Hmmffh…


Dan.. pagi hari pun tiba. Gue terbangun dengan keadaan seperti remuk redam. Kurang tidur. kepala pusing, mual dan sakit perut secara bersamaan. Rasanya seperti abis mabuk berat tadi malem. Hmmfhh.. gawat. 


Untungnya hari itu screentest berjalan lancar walaupun sepanjang hari gue masih berasa gak enak badan. Sial. Gak menyalahkan kopi yang gue minum sih, walaupun kini gue punya julukan baru buat kopi itu: kopi setan, karena efeknya yang luar biasa.


Gue tetep akan mencoba kopi lainnya di tempat tadi, di lain waktu ketika punya kesempatan berkunjung ke Bandung. Mudah-mudahan kali ini badan cukup fit sehingga gak berlawanan sama zat-zat yang terkandung dalam kopi itu. Sementara itu, gue akan tetap menempatkan kopi ‘tutmak’,Bali sebagai kopi favorit saat ini diatas starbucks, sambil berharap di Jakarta muncul sebuah coffee shop yang lokal, yang kopinya enak, original dan murah. yep. murah!


From Talentime: ‘I Go’

The saddest part of watching Yasmin Ahmad films, is the thought of knowing that she’s not going to make another.

Rest In Praise, Yasmin.

this december: a bit about…


Ipoh. 


Satu dari tiga judul pertunjukan monolog  yang gue saksikan tadi malam di Taman Ismail Marzuki. Cerita tentang seorang perempuan tegar yang bernama ‘Ipoh’, janda beranak dua yang ketika remaja menjadi korban perkosaan pamannya. 



Tapi, bukan itu yang bikin gue excited ketika mendengar kata ‘Ipoh’. Judul pementasan itu justru mengingatkan gue sama nama salah satu kota kecil yang juga bernama ‘Ipoh’. Yah, walaupun kata si Ifa, ‘Ipoh’ itu adalah nama sebuah daerah di Aceh, tapi tetep persepsi awal yang keluar dari otak gue ketika mendengar kata ‘Ipoh’ tadi.. ya itu. Sebuah kota kecil. Di Malaysia. 



‘Ipoh’ emang jadi begitu melekat di otak gue belakangan, sejak beberapa waktu yang lalu berhasil ‘marathon’ nonton film-filmnya Yasmin Ahmad di Jiffest 2009. Gimana gak mau melekat kalo di hampir semua film itu mengambil setting di salah satu kota terindah di Malaysia ini. 


Weits. 


Did i say ‘indah’?! Yep, blog! Mungkin lo agak kaget kenapa tiba-tiba gue memiliki ‘desire’ terhadap Malaysia. Hahaha.. Yak! itulah hebatnya Yasmin Ahmad. Cukup dengan nonton filmnya dia, pikiran negatif gue tentang Malaysia pun kian memudar. Bahkan, yang tadinya gue gak ada nafsu-nafsunya pergi ke Malaysia.. sekarang jadi mulai kepikiran buat sekali-kali travelling ke sana. Ke ‘Ipoh’ , pastinya.



Yasmin Ahmad emang jadi salah satu highlight bulan desember ini. Terlepas dari kenyataan bahwa dia udah gak ada lagi di dunia ini, film-filmnya toh masih bisa bikin banyak orang tersentuh, tanpa kecuali. Bahkan saking penuhnya audi tempat pemutaran film terakhirnya ‘Talentime’, seorang Riri Riza aja rela gak kebagian kursi dan memilih buat tetep nonton sambil duduk di tangga. Belom lagi deretan orang-orang yang nangis tiada henti macam si Gina. Atau orang-orang lainnya yang rela ngantri tiap hari buat ngedapetin tiket. Atau orang-orang yang nodong distributor Jive! buat ngeluarin DVDnya di indonesia. Atau orang-orang yang gak habis-habisnya posting twitter yang isinya muji-muji si Yasmin Ahmad ini.  It’s just amazing! I Must say, then blog… dari sekian banyak film yang pernah gue tonton… film-film Yasmin Ahmad harus masuk kategori the best and the most powerful film that ever made. 


Akh!

Miss You, Yasmin!!!




Ps: Damn you, Ifa! For having a chance to know her better. In person! *iri*

500 Days Of Summer

Rating: ★★★★★
Category: Movies
Genre: Romantic Comedy

The following is a work of fiction. Any resemblance to persons living or dead is purely coincidental. Especially you Jenny Beckman. Bitch.

***

Seketika, kata-kata di opening tadi langsung bikin gue jatuh cinta sama film ini. It’s been a while soalnya gak nonton romantic comedy yang menyenangkan macam ini. Ditambah musik-musik dari Feist, The Smiths, Regina Spektor dan Temper Trap, 500 Days of Summer really is fun!

Bercerita tentang seorang bernama Tom yang jatuh cinta sama Summer, dan yakin banget kalo Summer is the one. Cerita yang simple, tapi jadi sangat menarik karena gak diceritain secara linear, yang bikin gue menebak-nebak apa yang sebenernya terjadi sama mereka. Dan salah satu point yang juga gue suka dari cerita ini adalah fakta bahwa 500 Days Of Summer ngambil point of viewnya si Tom. Jarang-jarang kan romantic comedy yang nyeritain point of view cowo’!?

Tapi, walaupun film ini cowo banget… surprisingly, cerita Tom & Summer ini seperti familiar.. Hahahahhaa. Yep! So familiar karena kayaknya hampir semua orang pernah ngalamin the same thing.

Wanna know what thing? Then you gotta watch this fabulous movie!