Monthly Archives: May 2010

thing about lebak

Gara-gara liat foto-foto jalan ke Ujung Kulon, jadi teringat sesuatu.


Saya  berada dalam sebuah minibus ELF saat tiba-tiba menyadari bahwa tempat di mana saya berada itu bernama Lebak, Banten. Seketika saya mulai memperhatikan ke luar pintu ELF yang terbuka lebar itu. So… here I am. Berada di sebuah daerah yang terkenal hingga ke ujung belahan dunia karena sebuah buku berjudul ‘Max Havelaar’.



Saat itu lah saya menyadari bahwa apa yang digambarkan di buku itu sungguh tidak jauh berbeda. Sebuah tempat yang memiliki tanah subur, yang ditanami berbagai macam produk pertanian. Rumah-rumah penduduk yang sangat sangat sederhana kalo gak boleh dibilang miskin dan jalanan aspal panjang yang semakin ujung semakin hilang aspalnya. Hanya saja kemudian saya mulai tersadar bahwa sepanjang jalan saya banyak melihat resort-resort mewah, dan villa villa pribadi orang kaya. Saya juga kemudian sadar bahwa saat itu adalah tahun 2009. Yep. 2009. Tahun di mana sahabat saya yang duduk di sebelah ini lagi sibuk mencari sinyal untuk update twitter di Blackberrynya. Tahun dimana kami, si anak-anak kota dengan blackberry ini lagi mau merasakan sebuah petualangan menembus hutan belantara Ujung Kulon. 



Semua itu tiba-tiba jadi terasa salah di pikiran saya. 



Max Havelaar menggambarkan daerah Lebak sebagai daerah yang sangat subur dan kaya dengan hasil bumi, namun rakyatnya miskin dan nyaris kelaparan. Hasil bumi sepenuhnya dimonopoli oleh pejabat pejabat kolonial dan bangsawan daerah tanpa menyisakan hasil yang cukup untuk kesejahteraan rakyatnya. Well, gak jauh beda sama apa yang saya liat barusan. Bedanya, Multatuli menuliskan hal tersebut sekitar tahun 1840-an. Yep. 1840. Yang berarti sekitar lebih dari 160-an tahun yang lalu. 



Lalu, apa yang terjadi dengan daerah ini dalam kurun waktu 160-an tahun itu? 



Sepertinya gak ada perubahan yang berarti kecuali munculnya banyak pertambangan atas nama perusahaan negara dan resort-resort mewah di sepanjang pantainya. Sisanya, hanya Lebak seperti 160 tahun sebelumnya.


Micmacs

Rating: ★★★★★
Category: Movies
Genre: Comedy

Jean-Pierre Jeunet.

Rasanya namanya emang familiar. Tapi gw gak begitu ngeh sama orang ini sebelum si Cha Cha merekomendasikan gue buat nonton Micmacs di festival film perancis tahun ini. Setelah nonton gue baru sadar, kalo si Jean-Pierre Jeunet adalah orang yang sama yang bikin ‘Amelie’, salah satu film favorit gue.

Dengan gaya yang comical, Jeunet kembali berhasil menempatkan filmnya ke deretan top list film favorit gue sepanjang masa. Yep! Micmacs bisa gue bilang adalah film terbaik kayaknya yang pernah dia bikin.

Plotnya sederhana, tentang seorang yang berambisi untuk membalas dendam kepada perusahaan pembuat senjata karena ayahnya mati kena bom, dan dirinya sendiri juga nyaris mati karena tertembak peluru.

Yang mencengangkan adalah betapa BRILIANnya Jeunet mengemasnya dengan menampilkan karakter-karakter comical yang bener-bener out of the box dan mindblowing. Belom lagi beberapa visual yang bikin gue gak bisa berhenti tersenyum sepanjang film ini diputar.

Bener-bener BRILIAN!!!!!

Hampir kehabisan kata-kata nih gue buat muji2 orang ini. Mendingan kalian nonton aja deh sendiri buat membuktikan kejeniusan seorang Jean-Pierre Jeunet dan partner menulisnya Guillaume Laurant. Amazing! 😉

Iron Man 2

Rating: ★★★
Category: Movies
Genre: Action & Adventure

Gak tau sampe kapan Robert Downey Jr bakalan nongkrong sambil makan donat di pikiran gue. Bahkan setelah nonton 2 kali, toh gue masih pengen nonton lagi. Seriously. Bahkan juga setelah nonton lagi Iron Man yang pertama, toh gue masih pengeen nonton lagi cuma buat ngeliat Robert Downey. Hahahaa.

Robert Downey Jr emang jadi salah satu kekuatan terpenting dalam film ini. Bukan hanya karna dia ganteng, tapi karakter Tony Stark itu jadi bener-bener hidup gara gara dia.

But He’s not the only one. Di sequel Iron Man ini, Mickey Rouke juga ngasih andil yang cukup oke ketika dia meranin karakter Ivan Vanko yang berhasil bikin kostum tandingan Iron Man. Cuma sayangnya Terrence Howard gak ikutan lagi di sini. Posisinya sebagai ‘Rhodey’ digantiin sama Don Cheadle yang menurut gue sih.. kurang oke penampilannya. Atau kurang cocok? gak tau deh.. hehehe… ;D

Tapi yang menarik, di sini kita diajak ngeliat Tony Stark yang berada dalam tekanan luar biasa dari pemerintah, saingan bisnis senjatanya serta tubuhnya sendiri yang kian hari kian melemah karena kostum Iron Man itu sendiri. Ditambah visual effect yang khas Hollywood, film ini gak mengecewakan.

Ditunggu Iron Man 3 nya, Hollywood 😉

Robin Hood

Rating: ★★★
Category: Movies
Genre: Action & Adventure

The untold story of the man behind the legend.

Kira-kira itulah yang bakal lo dapet saat lo nonton film terbaru Ridley Scott ini.
Ini adalah cerita Robin Hood sebelum ia tinggal di tengah hutan, bikin koloni dan mulai merampok orang-orang kaya yang semena-mena buat dibagiin lagi ke rakyat yang tertindas.

Cukup menyenangkan sih nontonnya. Apalagi awalnya gue juga sempet low expectation sama ni film. Kalo bukan karena kangen banget liat Cate Blanchett di bioskop, mungkin gue lebih memilih gak nonton ni film. Karena plis deh.. Robin Hood gitu!? Udah berapa kali juga ni film dibikin buat tv, bioskop, kartun.. ahahhaa. Boring lah.

Tapi low expectation itu cukup kebayar karena satu hal tadi.

You’ll know the story of the man behind the legend.

COPELAND LIVE

Copeland “Farewell Tour” concert
June 8, 2010
El Dorado, Bandung

In this album:
Copeland, Ame, Riri, Dimas, Rangga, Lia, Elki, Yudha dan 2000-an orang lainnya yang menyaksikan konser pertama dan terakhirnya Copeland di Indonesia. Tsaah 😉

carpe diem

Ola!

 

It’s been a while setelah postingan terakhir  tentang ‘Hari-hari di Vietnam’ bulan maret yang lalu. And guess what? It’s May already! Pun postingan ‘Vietnam Days’ itu gak kelar juga. Harusnya blog, masih ada dua hari lagi cerita gue n gina selama di Da Lat. Jadi ceritanya waktu di sana, gue n gina bikin kesepakatan  dengan mempertimbangkan kompetensi di bidang tulis menulis, yang menghasilkan keputusan bahwa si Gina -yang notabene berprofesi sebagai penulis scenario- yang bakal nulis jurnal tentang perjalanan kita. Tapi apa mau dikata. Kesepakatan tak tertulis itu pun terlupakan begitu aja. Hmmfhh. Lain kali ingetin gue ya blog untuk selalu membuat kesepakatan apapun dengan hitam diatas putih. Pake matere sekalian! Hehe…

 

Yah, too bad lah  jurnal 2 hari terakhir kami di Vietnam itu gak berhasil terposting Padahal itu adalah  moment favorit gue ketika mengunjungi Vietnam.

Kenapa?

Karena hari itu kami mengunjungi pusat meditasi dan kuil Budha, yang amazingly… berhasil bikin gue merasa sangat sangat rileks dan tenang ketika berada di sana. Itu makanya ketika balik ke Jakarta, gue seperti terobsesi sama Budha. Waktu ada sale baju baju labelnya Luna Maya yang murah murah banget itu, bahkan gue sangat exciting ketika nemu kaos bergambar Budha dengan harapan kalo gue pake tu kaos, bisa memberikan semacam vibe ketenangan yang pernah gue rasain di tempat meditasi dan kuil di Da Lat.

 

Speaking of  kaos budha, hari Rabu seminggu yang lalu gue make kaos itu ke  kantor dengan harapan bisa berasa lebih adem aja ngadepin kerjaan yang bikin pusing. And it works. Hari itu gue berasa santai banget di kantor. Sesaat sebelum pulang, gue menjelajahi pesan pesan singkat temen temen gue di twitter. Salah satunya dari @AdrieSubono yang nge tweet Kelly Clarkson yang lagi jalan jalan di Jalan Surabaya.

 

Maka saat itu gue iseng iseng lewat jalan Surabaya yang jaraknya gak jauh dari kantor dengan jalan kaki. Sambil masang ipod, gue jalan jalan santai di sepanjang jalan surabaya sambil celingukan kali-kali aja ada Kelly Clarkson. Daaan bener. There she is! Lagi jalan cuma berdua sama nyokapnya. Sementara manajer dan gerombolan java musikindo berada jauh di belakang sambil duduk duduk di pinggir jalan. Sejenak gue cuma terdiam sambil ngeliatin doi. Sampe akhirnya gue memutuskan untuk berteriak “Kelly!” sambil melambai ke arah si Idola Amrik itu. Dan diluar dugaan dia menghentikan jalan jalannya, berpaling ke arah gue dan balik berteriak “Hoy!” sambil melambaikan tangan dan mengumbar senyum yang bisa gue perkirakan still selama kurang lebih 15 detik. Yak! Setelah itu… bukannya gue mendekat dan ngobrol atau foto bareng.. eh… gue malah melengos aja gitu. As if yang nyapa balik gue tadi bukanlah juara kontes nyanyi paling terkenal sedunia. Dan lebih buruknya lagi… dia adalah satu-satunya pemenang kontes itu yang emang bener-bener terbukti Yahud kemampuan nyanyinya. Dan untuk semakin memperjelas buruk nya keadaan, gue perlu mengingatkan diri gue yang lagi kena vibe meditasi Budha ini: SHE SAID “HOY!” DIRECTLY TO ME AND JUST STAND THERE FOR ALMOST 15 SECONDS!.

 

Selanjutnya gue masih berasa begoooo banget karena menyia nyiakan kesempatan ngobrol sama Kelly biarpun keesokan harinya gue dan Galuh berhasil dapet spot paling depan di konsernya dia.. tetep aja… sebel banget kalo diinget-inget lagi kebodohan hari itu.  

 

Carpe diem! Carpe diem! Remember !?

Damn Stupid!