Monthly Archives: October 2014

Tentang yang hampir saja

Ola!
Baru aja gue baca tweet di timeline seseorang yang tiba-tiba menyulut emosi. Mungkin si penulis tweet itu gak ada maksud bikin bete, sih. Cuma guenya aja yang lagi sensi. Tweetnya kurang lebih mempertanyakan mengenai IPTN yang banyak menyerap tenaga Doktoral, tapi toh gak berhasil.

Tuh. Gimana coba? Nyimak sejarah gak sih orang ini?

Anyway, tweet ini kemudian mengingatkan gue tentang banyak banget potensi di negara ini yang somehow, jadi sia-sia. Mungkin negara ini dikutuk kali ya? Abisnya setiap kita punya sesuatu yang kayaknya potensinya gede banget, kemudian hal buruk selalu datang. Nggak pernah jadi. Selalu “Hampir”.

Mulai di zaman Bung karno. Ketika itu Indonesia bersinar banget. Berhasil merdeka, jadi pencetus Gerakan Non Blok, sampai nyekolahin banyak anak muda terpilih ke luar negri untuk menuntut ilmu dan siap-siap ngebangun RI yang diidam-idamkan. RI yang sejahtera, dan BERDIKARI (Berdiri di Atas Kaki Sendiri). Semuanya terlihat keren dan revolusioner banget saat itu. Bayangin, negara yang baru merdeka ini, nggak punya duit tapi punya sumber daya alam yang melimpah dan kekeuh banget gak mau nyerahin pengolahannya sama asing, dan memilih buat kerja keras belajar demi bisa ngolah sumber daya alam sendiri. Gak Cuma itu, Indonesia kala itu gak mau belain Blok Amerika atau Blok Rusia yang saat itu lagi perang dingin, malah bikin “blok” sendiri di dunia. Badass banget, kan blog!? Ya. Keren banget. Hingga, satu per satu mimpi itu runtuh.

Sekarang, bidang olah raga. Di sepakbola deh, contohnya. Tahun 90-an, siapa coba yang gak bangga sama pencapaian Kurniawan Dwi Yulianto. Keberhasilannya menembus tim elit liga Italia macam Sampdoria (kebayang kan Sampdoria jaman 90’s), bikin harapan baru buat Indonesia. Gila. Baru kali ini ada pemain sepakbola Indonesia yang kualitasnya bisa setara dengan pemain-pemain sepakbola dunia.

Gue inget banget, waktu itu semua majalah remaja mengangkat profil Kurniawan. Gak Cuma profilnya, pin up dan poster Kurniawan juga mejeng dengan oke di majalah-majalah itu. Dan gue yakin banget, banyak banget abg-abg saat itu yang majang pin up Kurniawan di dinding kamar mereka. Tapi kemudian, sama seperti cita-cita Bung Karno, harapan Kurniawan itu juga satu per satu runtuh. Somehow, orang ini katanya kecanduan narkotika, yang kemudian menggagalkan impiannya untuk bermain di pentas Eropa. Belakangan, gue baru tau kalo Narkotika itu bukanlah satu-satunya alasan Kurniawan gagal di sana.

Lalu, baru-baru ini, kejadian sama timnas sepakbola U-19. Sempat menang atas Korea Selatan, bikin harapan semua orang tinggi banget sama tim ini. Kalo ngeliat mereka main saat itu, gue pun rasanya gak percaya. Kualitasnya gila banget, blog. Padahal, tim ini dibangun secara swadaya sama tim pelatihnya dengan dukungan yang sangat minim dari PSSI. Tim ini juga punya mimpi besar, bisa masuk Piala Dunia. Dan ya, same old story, begitu menang, seketika banyak pihak yang mempergunakan mereka sebagai alat mejeng nama, uang dan prestasi. Ujung-ujungnya, prestasi timnas U-19 ini terus menurun. Harapan untuk tampil di Piala Dunia pun kandas.

Hal serupa juga terjadi sama industri strategis Indonesia macam IPTN. Bayangin aja, tahun 90’an Indonesia udah punya pesawat buatan nasional. Yang, kalo itu terus berjalan, Bandara kita sekarang mungkin dipenuhi sama pesawat buatan IPTN, yang asli bikinan sendiri dengan sumber daya manusia Indonesia, bukannya pesawat asing macam Boeing atau Airbus. Kebayang gak lo, gimana potensi ekonomi yang hilang dan “kabur” ke negara lain, karena industri strategis macam IPTN ini sengaja dimatikan.

Begitulah. Sedih banget ya?

Gue berharap cycle “hampir saja” ini segera berakhir. Mungkin setelah banyak sekali gagal, kali ini kita bisa belajar, bangkit dan berhasil.

Semoga.