Monthly Archives: June 2015

The Prettiots on NPR Music Tiny Desk Concert

I laughed so much when i saw this performance. Real fun. Cheers, The Prettiots!

Nomor di pecahan lima puluh ribu

Aku bertemu dengannya melalui sebuah nomor telepon di pecahan lima puluh ribu yang diberikan penjaga mini market malam tadi. Malam tadi memang sungguh absurd. Aku merasa seluruh duniaku sekejap mati. Berlebihan memang. Mungkin karena aku sedang merasa sangat melankolis. Patah hati. Atau apa lah orang menyebutnya. Kamu tau kan perasaan ini? Seperti sakit tapi terasa sangat menusuk di tengah dada. Ya. Tepat di tengah dada.

Jadi, malam tadi aku memutuskan untuk pergi keluar dari rumah. Kupikir dengan begitu rasa sakit ini akan sedikit reda. Kupikir, dengan melihat lampu-lampu menyilaukan dari mobil dan motor yang berseliweran di jalan itu akan sedikit meringankan sakit. Ternyata tidak. Sepanjang jalan, malah sepertinya ada saja yang membuat orang-orang di sekitarku kesal. Padahal aku tidak berbuat apa-apa.

Orang-orang ini memang aneh. Berjalan di pinggir jalan saja menjadi masalah. Sungguh. Aku tidak berbuat apa-apa kecuali berjalan. Di pinggiran.Tapi tetap saja, bergantian pengendara mobil dan motor meneriakkan kata-kata kasar ke arahku. Aku tidak peduli, kupikir. Aku hanya ingin berjalan. Aku merasa tubuhku melemah.Tapi aku tidak ingin berhenti.

Tapi sungguh. Kenapa mereka seperti tidak menyukaiku. Aku ini kenapa sih memangnya? Oh, Tuhan! Aku tidak punya energi untuk membalas makian mereka.

“Woy! Mikir dong!”

“Anjing lo!”

“Emang ini jalanan bapak lo!”

Urgh. Kasar sekali.. Tidak tahu kah mereka kalau saat ini aku sedang merasa sakit? Lagipula apa salahku? Memangnya mereka tidak pernah merasakan sakit di dada seperti ini? Rasanya aku ingin meneriaki mereka satu per satu. Kalau bisa, aku malah ingin berteriak sekencang suara knalpot sember motor mereka. Tapi tidak bisa. Sakit di dada ini sungguh menyiksa.

Dari jauh aku melihat cahaya putih dengan huruf K yang merah menyala. Sebuah mini market. Bagus lah. Aku bisa duduk sejenak. Tubuh ini semakin terasa melayang sekarang. Sakit di dada masih sangat terasa. Aku membeli sebotol alkohol di sana. Oh. Dua. Oh. Tiga. Atau sepertinya empat. Aku tidak ingat. Aku meminum habis semuanya. Aku mengeluarkan semua uang di dompetku, dan penjaga mini market memberikanku selembar uang lima puluh ribu.

Aku duduk cukup lama di mini market itu. Tidak sanggup berdiri. Kini bukan hanya dadaku yang sakit. Tapi seluruh tubuhku terasa berat. Aku Cuma bisa duduk dan memandangi uang lima puluh ribu. Ada nomor telepon di uang itu. Aku mengambil handphone di saku dan menekan tombolnya.

Kini kepalaku terasa sangat berat. Tapi. Tunggu. Sesuatu terasa berbeda. Sakit di dada kini tidak terasa. Segera saja aku mencoba menarik tubuhku dari tempat tidur.  Duduk di pinggirnya dan menutup mata. Lega.

Perlahan aku merasakan cairan hangat di bawah pantat dan paha. Aku menoleh dan mendapati sosok manusia pucat di sebelahku.

Darah di tanganku. Sial. Aku mencoba mengingat.

Sial.

Aku bertemu dengannya melalui sebuah nomor telepon di pecahan lima puluh ribu yang diberikan penjaga mini market malam tadi.

dah.


getar handphone tepat di samping telinga membangunkanku dari tidur pagi ini. sebuah pesan dari merry, mengabarkan gimana keadaan kamu pagi tadi. sudah waktunya kamu pergi.

selamat jalan, pras. senang bisa kenal kamu dan berbagi waktu yang menyenangkan bersama kamu. mungkin kamu nggak akan pernah membaca ini, tapi aku harap, genggam tanganku kemarin lusa bisa kamu rasa. terima kasih ya sudah berbagi canda bersama kita.

Rodriguez – I Think of You

Ketika lagi ngobrolin tentang betapa briliannya lirik-lirik Bob Dylan, Mas Aris mention satu artis bernama Rodriguez. I never heard about this guy. Konon, katanya orang ini juga nggak kalah brilian. Sayangnya, pada zamannya dia nggak berhasil meraih popularitas macam Dylan. Tapi, lagu-lagunya berhasil bertahan melewati zaman hingga kisahnya ini diangkat ke dalam sebuah film dokumenter berjudul “Searching For Sugarman”. Film yang berhasil meraih oscar beberapa tahun lalu ini juga mengantarkan Rodriguez ke telinga pendengar yang datang dari generasi baru. Berpuluh-puluh tahun setelah musik briliannya pertama kali diperdengarkan ke publik.

Gue salah satunya. Dan sebagai pendengar yang sedang patah hati, gue merekomendasikan lagu ini. One of the best broken hearted song ever written.

I Think Of You

Just a song we shared, I’ll hear
Brings memories back when you were here
Of your smile, your easy laughter
Of your kiss, those moments after
I think of you,
and think of you
and think of you.

Of the dreams we dreamt together
Of the love we vowed would never
Melt like snowflakes in the sun
My days now end as they begun
With thoughts of you,
and I think of you
and think of you.

Down the streets I walked with you
Seeing others doing things we do
Now these thoughts are haunting me
Of how complete I used to be
And in these times that we’re apart
I’ll hear this song that breaks my heart
And think of you
And I think of you
And think of you
and think of you
And I do

Tagged ,